Reog Bulkiyo, Kesenian Khas Blitar dengan Sejarah Perang Diponegoro
Karawang : Nama Reog selama ini identik dengan Kabupaten Ponorogo sebagai salah satu ikon budaya Jawa Timur yang mendunia. Namun, Kabupaten Blitar juga memiliki kesenian serupa bernama Reog Bulkiyo dengan karakter dan sejarah yang berbeda.
![]() |
| Reog Bulkiyo merupakan kesenian tradisional khas Desa Kemloko, Blitar, yang memiliki sejarah dan karakter berbeda dari Reog Ponorogo. |
Reog Bulkiyo menjadi warisan budaya masyarakat Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, yang masih terus dilestarikan hingga sekarang. Meski sama-sama memakai nama Reog, bentuk pertunjukan, kostum, hingga musik pengiringnya memiliki ciri khas tersendiri.
Dikutip, 27 Juli 2026, penelitian Institut Seni Indonesia Surakarta menyebut Reog Bulkiyo berkembang sebagai seni pertunjukan tradisional dari sejarah panjang masyarakat Blitar. Kesenian tersebut menghadirkan identitas budaya lokal yang berbeda dibandingkan Reog Ponorogo yang lebih dikenal masyarakat luas.
Pertunjukan Reog Bulkiyo tidak menampilkan dadak merak atau kepala harimau yang menjadi simbol utama Reog Ponorogo. Sebagai gantinya, pertunjukan lebih menonjolkan gerakan perang yang dipadukan dengan musik tradisional sebagai media penyampaian cerita.
Menurut penelitian Institut Seni Indonesia Surakarta, Reog Bulkiyo diperkirakan muncul pada masa Perang Jawa yang berlangsung antara 1825–1830. Kesenian tersebut diyakini diciptakan para prajurit Pangeran Diponegoro yang mengungsi ke Desa Kemloko setelah peperangan.
Pada masa awal kemunculannya, Reog Bulkiyo tidak hanya berfungsi sebagai hiburan bagi masyarakat sekitar wilayah tersebut. Kesenian itu dimanfaatkan sebagai sarana melatih kemampuan bertempur para prajurit sambil menunggu kelanjutan perjuangan melawan pasukan kolonial Belanda.
Seiring perjalanan waktu, fungsi Reog Bulkiyo terus berkembang mengikuti perubahan kehidupan sosial masyarakat di Kabupaten Blitar. Kini, pertunjukan tersebut sering ditampilkan dalam acara adat, peringatan hari besar, hingga festival budaya daerah.
Meski sama-sama memakai nama Reog, kedua kesenian tersebut memiliki latar belakang, bentuk pertunjukan, dan filosofi yang berbeda. Perbedaan itu justru memperkaya keragaman budaya Nusantara sekaligus memperkuat identitas masing-masing daerah.
1. Asal Daerah
Reog Bulkiyo berasal dari Desa Kemloko, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar yang menjadi pusat pelestarian kesenian tersebut hingga sekarang. Sementara itu, Reog Ponorogo berasal dari Kabupaten Ponorogo dan telah lama menjadi identitas budaya masyarakat setempat.
2. Latar Belakang Cerita
Reog Bulkiyo mengangkat kisah perjuangan prajurit Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa melawan kolonial Belanda di Nusantara. Sebaliknya, Reog Ponorogo dikenal melalui cerita rakyat tentang Ki Ageng Kutu, Klono Sewandono, Singo Barong, serta Dewi Songgolangit.
3. Penggunaan Dadak Merak
Pertunjukan Reog Bulkiyo tidak menggunakan dadak merak maupun barongan yang menjadi ciri khas Reog Ponorogo selama ini. Reog Ponorogo justru menjadikan Singo Barong dengan hiasan dadak merak sebagai ikon utama setiap pementasan budaya.
4. Kostum Penari
Para penari Reog Bulkiyo mengenakan busana yang menggambarkan prajurit perang sesuai kisah perjuangan yang diangkat dalam pertunjukan. Berbeda dengan Reog Ponorogo yang menghadirkan tokoh Warok, Jathil, Klono Sewandono, Bujang Ganong, hingga Singo Barong.
5. Iringan Musik
Perbedaan lain terlihat pada alat musik yang mengiringi pertunjukan masing-masing kesenian tradisional tersebut di atas panggung. Reog Bulkiyo menggunakan kecer sebagai pembuka irama yang dipadukan rebana, sronen, kenong, serta kempul sehingga menghasilkan karakter musikal.(*)
