Krisis Amunisi AS Ancam Posisi Global
Karawang : Pentagon dinilai kesulitan menjaga daya gentar terhadap kekuatan besar dunia akibat terkurasnya pasokan rudal strategis.
Konflik berkepanjangan dan penggunaan amunisi canggih secara masif dalam kampanye militer melawan Iran telah menguras cadangan strategis Amerika Serikat.
Kondisi ini secara signifikan membatasi kemampuan Washington dalam mempertahankan daya gentar terhadap kekuatan global lainnya, seperti China dan Rusia.
Berdasarkan laporan The Wall Street Journal Sabtu 29 Agustus 2026, para perencana militer menyatakan keprihatinan mendalam atas terkurasnya sumber daya tersebut. Situasi ini memaksa Komando Eropa Amerika Serikat untuk meninjau ulang dan menyesuaikan rencana operasional pertahanan regional.
Pejabat pertahanan tinggi menilai bahwa Washington saat ini berada pada posisi yang rentan. Amerika Serikat dinilai tidak akan mampu mengeksekusi rencana kontingensi secara penuh guna membela Taiwan jika terjadi eskalasi militer dalam waktu dekat.
Pemindahan unit pertahanan udara strategis dari Jepang, Korea Selatan, dan Jerman ke kawasan Timur Tengah telah menciptakan celah kerentanan dalam postur pertahanan global Amerika Serikat.
Para pejabat memperkirakan proses pemulihan dan pengisian kembali cadangan tersebut akan memakan waktu hingga bertahun-tahun.
Laporan tersebut juga mencatat bahwa inventaris rudal pencegat PAC-3 Patriot serta Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat (ATACMS) di Eropa telah berada di bawah tingkat kritis.
Sistem pertahanan rudal ketinggian tinggi (THAAD) beserta perangkat penangkal nirawak juga telah dialihkan ke Timur Tengah, yang otomatis memangkas pasokan di Eropa.
Dampaknya, kemampuan negara-negara Barat dalam menyuplai rudal pencegat ke Ukraina menjadi sangat terbatas, di tengah gelombang serangan udara Rusia yang terus berlanjut.
Kendati demikian, pihak Gedung Putih dan Pentagon dengan tegas membantah narasi bahwa militer Amerika Serikat sedang mengalami krisis kekurangan amunisi.
Pemerintahan Trump menyatakan bahwa militer Amerika Serikat tetap mempertahankan sumber daya yang memadai guna memenuhi seluruh target dan kebijakan strategis Presiden Donald Trump Kutip AFP Sabtu 29 Agustus 2026.(*)
