Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Bangsa yang Tangguh Tidak Dilahirkan oleh Kenyamanan

Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks. Di satu sisi, kehidupan semakin mudah. Teknologi mempersingkat pekerjaan, kebutuhan semakin cepat terpenuhi, dan berbagai fasilitas hadir untuk memberikan kenyamanan. Namun di sisi lain, kita justru menyaksikan semakin banyak generasi muda yang rapuh menghadapi tekanan, mudah menyerah ketika gagal, sulit mengendalikan diri, dan kehilangan daya juang.
KH. Muhammad Endang Suratno Wibowo, M.Ed dan Danrem 063/Sunan Gunung Jati Kolonel Inf Hista Sholeh Harahap, S.I.P., M.I.P., M.Han meresmikan program Santri Maung Siliwangi dan Wibawa Nusantara di Pondok Pesantren Lestari Alam Qur’ani Indonesia, Ciranggon, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang, Selasa (28/10/2025).

Persoalannya bukan terletak pada kemajuan zaman. Persoalannya adalah ketika kenyamanan dijadikan tujuan utama pendidikan. Padahal, sepanjang sejarah peradaban, tidak ada bangsa besar yang lahir dari generasi yang dibesarkan tanpa tantangan.

Allah Swt. telah menetapkan bahwa ujian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembentukan manusia.

"Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar." 
(QS. Al-Baqarah: 155).

Ayat ini tidak hanya berbicara tentang musibah, tetapi juga tentang pendidikan kehidupan. Rasa takut melatih keberanian. Kelaparan melahirkan kesabaran dan empati. Kekurangan mengajarkan kreativitas. Kehilangan membentuk kedewasaan. Semua itu merupakan proses pembentukan karakter yang tidak dapat digantikan oleh teori di ruang kelas.

Allah kembali menegaskan:
"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka belum diuji?" (QS. Al-'Ankabut: 2).

Keimanan, kepemimpinan, dan integritas selalu diuji. Tanpa ujian, nilai-nilai itu hanya menjadi slogan.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada masing-masing terdapat kebaikan." (HR. Muslim).

Kekuatan yang dimaksud bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan iman, akhlak, mental, ilmu, dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Tradisi keilmuan Islam sejak dahulu pun mengajarkan bahwa kemuliaan tidak pernah lahir dari kemanjaan. Dalam hikmah yang masyhur disebutkan:

بقدر الكد تكتسب المعالي
"Kemuliaan diraih sebanding dengan kesungguhan dan perjuangan."»

Demikian pula nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Asy-Syafi'i:

من لم يذق مر التعلم ساعة تجرع ذل الجهل طول حياته
"Siapa yang tidak sanggup merasakan pahitnya belajar sesaat, akan menanggung pahitnya kebodohan sepanjang hidupnya."

Menariknya, kesimpulan serupa juga lahir dari pemikiran modern. Viktor Frankl menunjukkan bahwa manusia bertumbuh ketika mampu menemukan makna dalam penderitaan. Angela Duckworth menjelaskan bahwa ketekunan (grit) lebih menentukan keberhasilan dibandingkan bakat semata. Nassim Nicholas Taleb bahkan memperkenalkan konsep antifragile, yaitu manusia atau sistem yang justru menjadi lebih kuat karena tekanan dan tantangan.

Indonesia membutuhkan generasi seperti itu. Generasi yang tidak mudah tumbang oleh kritik, tidak hancur oleh kegagalan, dan tidak kehilangan arah ketika menghadapi kesulitan.

Karena itu, pendidikan di rumah, di sekolah, dan di pesantren tidak boleh hanya mengejar prestasi akademik. Anak-anak harus diberi ruang untuk menghadapi tantangan yang mendidik. Mereka perlu belajar memilih pergaulan yang baik, memikul tanggung jawab, bekerja keras, berpuasa, memimpin, melayani orang lain, menerima kegagalan, serta bangkit setelah jatuh. Dari sanalah lahir ketangguhan yang sesungguhnya.

Masa depan Indonesia tidak bergantung pada seberapa banyak fasilitas yang dimiliki, melainkan pada kualitas manusia yang dibentuk. Bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang melindungi generasinya dari setiap kesulitan, tetapi bangsa yang membimbing mereka agar mampu menghadapi setiap ujian dengan iman, ilmu, akhlak, dan keberanian.

Jika Indonesia ingin menyongsong satu abad kemerdekaan sebagai bangsa yang maju dan bermartabat, maka investasi terbesar yang harus dilakukan bukan hanya membangun jalan, gedung, dan teknologi, tetapi membangun manusia yang tahan uji. Sebab, dari manusia-manusia tangguh itulah lahir peradaban yang kokoh dan bangsa yang berwibawa.(*)

Penulis :; KH. Muhammad Endang Suratno Wibowo, M.Ed