Kecanduan Game, Hobi atau Sudah termasuk Gangguan Mental?
Karawang. Bermain game dapat menjadi hiburan untuk mengusir jenuh dan mengisi waktu luang. Namun, kebiasaan tersebut perlu diperhatikan ketika mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
![]() |
| Ilustrasi seseorang yang terlalu larut dalam aktivitas bermain game hingga berpotensi mengganggu aktivitas sehari-hari (Foto: AI) |
Dikutip dari Halodoc pada 27 September 2026, WHO memasukkan gaming disorder dalam International Classification of Diseases atau ICD-11. Kondisi tersebut termasuk gangguan akibat perilaku adiktif dalam klasifikasi kesehatan tersebut.
Gaming disorder bukan sekadar kebiasaan bermain game dalam waktu lama. Kondisi ini berkaitan dengan pola bermain yang terus-menerus hingga game mulai menggeser kepentingan hidup lainnya.
Lantas, kapan kebiasaan bermain game dapat disebut sebagai gangguan? Ada tiga tanda utama yang perlu diperhatikan, terutama ketika pola tersebut berlangsung secara menetap.
Pertama, seseorang kesulitan mengendalikan kebiasaan bermain game. Kedua, game mulai diprioritaskan dibandingkan aktivitas lain yang sebelumnya menjadi bagian kehidupannya.
Ketiga, seseorang tetap bermain meskipun sudah mengalami konsekuensi negatif yang jelas. Ketiga tanda tersebut perlu terlihat selama satu tahun sebelum diagnosis dibuat.
Kondisi tersebut dapat dialami berbagai kelompok usia, bukan hanya anak-anak. Dampaknya dapat menyentuh kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, hubungan sosial, hingga pendidikan seseorang.
Artinya, orang dewasa juga perlu memperhatikan perubahan pola bermain game dalam kehidupan sehari-hari. Bermain hingga mengabaikan pekerjaan, keluarga, atau aktivitas penting lainnya menjadi tanda yang patut diperhatikan.
Meski begitu, tidak semua orang yang sering bermain game mengalami gaming disorder. WHO mengaitkannya dengan gangguan bermakna terhadap fungsi kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, atau pendidikan.
Lalu, bagaimana mencegah kebiasaan bermain game berkembang menjadi masalah? Pada anak, orang tua dapat mengatur waktu bermain, membatasi akses perangkat, dan memanfaatkan fitur parental control.
Pengaturan waktu juga dapat membantu membentuk batas bermain yang lebih jelas. Bagi orang dewasa, prinsip serupa dapat diterapkan dengan memperhatikan apakah waktu bermain mulai menggeser tanggung jawab utama.
Pada akhirnya, persoalannya bukan sekadar berapa lama seseorang bermain game. Yang perlu diperhatikan adalah kemampuan mengendalikan permainan dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.(*)
