Masjid, Tempat " Balik Jelema Garelo "
Karawang : Ada satu ungkapan sederhana yang sangat dalam maknanya: “Masjid téh tempat balik jelema garelo.”
Dalam bahasa yang lebih mudah, masjid adalah tempat pulangnya orang-orang yang pernah salah, pernah jauh, pernah tersesat, bahkan pernah bergelimang dosa, tetapi masih ingin kembali kepada Allah.
Ungkapan ini penting kita renungkan.
Sebab terkadang kita tanpa sadar membangun masjid hanya sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang sudah merasa baik. Padahal, boleh jadi fungsi masjid yang jauh lebih mulia adalah menjadi tempat orang yang belum baik belajar menjadi baik.
Masjid bukan ruang pamer kesolehan.
Masjid adalah ruang pertobatan.
Allah berfirman:
وَاللّٰهُ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)
Perhatikan bagaimana Allah menyebut التَّوَّابِينَ, orang-orang yang banyak bertaubat. Artinya, manusia yang baik bukanlah manusia yang tidak pernah jatuh. Manusia yang baik adalah manusia yang ketika jatuh, ia mau bangkit; ketika salah, ia mau memperbaiki diri; ketika jauh, ia mau kembali.
Dan masjid seharusnya menjadi salah satu tempat paling aman bagi perjalanan pulang itu.
Ada anak muda yang lama tidak ke masjid.
Suatu malam ia datang, jangan buru-buru bertanya, “Ke mana saja selama ini?”
Sambutlah.
Ada orang yang masuk masjid setelah bertahun-tahun hidup dalam kesalahan.
Jangan sibuk mengorek masa lalunya.
Berikan ia tempat duduk.
Ada seseorang yang datang dengan hati yang hancur. Jangan tambah bebannya dengan penghakiman. Mungkin ia tidak datang karena sudah menjadi orang saleh. Ia datang karena ingin menjadi saleh. Ini perbedaan yang harus dipahami.
Orang yang sudah baik membutuhkan masjid untuk menjaga kebaikannya. Tetapi orang yang sedang jatuh membutuhkan masjid untuk menemukan jalan pulangnya.
Al-Qur'an bahkan menggambarkan masjid sebagai tempat manusia menyucikan diri:
فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
“Di dalamnya ada orang-orang yang suka menyucikan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. At-Taubah: 108)
Menyucikan diri tidak selalu berarti seseorang datang dalam keadaan sudah bersih.
Justru ia datang karena ingin dibersihkan.
Ia datang membawa dosa.
Ia datang membawa kegelisahan.
Ia datang membawa luka.
Ia datang membawa penyesalan.
Kemudian ia mengambil wudhu, berdiri dalam shalat, membaca Al-Qur'an, bersujud, beristighfar dan perlahan-lahan, sesuatu dalam dirinya berubah.
Itulah keajaiban masjid, bangunannya mungkin terbuat dari batu, semen dan kayu. Tetapi di dalamnya, hati manusia bisa dibangun kembali.
Rasulullah ﷺ pun mengajarkan agar manusia tidak kehilangan harapan dari rahmat Allah.
Beliau bersabda:
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa kesalahan adalah bagian dari kemanusiaan, sedangkan taubat adalah jalan kemuliaan.
Karena itu, jangan jadikan masa lalu seseorang sebagai vonis seumur hidup.
Hari ini ia mungkin seorang pendosa.
Besok ia bisa menjadi ahli ibadah.
Hari ini ia jauh dari Al-Qur'an.
Besok mungkin ia menjadi penghafalnya.
Hari ini ia tidak pernah menginjak masjid.
Besok mungkin justru ia yang menghidupkan masjid.
Kita tidak pernah tahu bagaimana Allah membolak-balikkan hati manusia.
Allah bahkan memberikan sebuah seruan yang luar biasa kepada manusia yang merasa dirinya sudah terlalu jauh:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللّٰهِ
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini bukan hanya untuk orang yang sudah baik.
Ayat ini justru mengetuk hati orang-orang yang merasa dirinya “sudah terlalu jauh.”
Allah tidak mengatakan, “Wahai orang-orang yang tidak pernah berdosa.”
Allah memanggil:
يَا عِبَادِيَ
“Wahai hamba-hamba-Ku."
Betapa luas rahmat Allah.
Bahkan ketika manusia merasa dirinya sudah tidak layak, Allah masih menyebutnya “hamba-Ku.”
Karena itu, masjid jangan berubah menjadi tempat yang membuat orang takut pulang.
Jangan sampai seseorang lebih takut masuk masjid daripada masuk ke tempat maksiat.
Jangan sampai anak muda merasa masjid bukan tempatnya.
Jangan sampai orang miskin merasa rendah.
Jangan sampai orang yang baru belajar agama takut bertanya.
Jangan sampai orang yang pernah berbuat dosa terus-menerus dipukul dengan cerita masa lalunya.
Tegakkan aturan agama, tentu.
Jaga adab, tentu.
Nasihati kemaksiatan, tentu.
Tetapi lakukan semuanya dengan hikmah dan rahmah.
Sebab dakwah bukan sekadar membuat manusia tahu bahwa dirinya salah. Dakwah adalah menunjukkan jalan agar ia bisa kembali.
Ada perbedaan besar antara mengusir orang berdosa dan mengusir dosa dari diri orang tersebut.
Yang pertama membuat manusia pergi.
Yang kedua membuat manusia berubah.
Maka masjid idealnya tidak hanya memiliki imam yang baik, tetapi juga memiliki lingkungan yang membuat orang ingin menjadi baik.
Tidak hanya memiliki mimbar untuk khutbah, tetapi juga memiliki ruang untuk mendengar keluh kesah umat.
Tidak hanya memiliki jadwal pengajian, tetapi juga memiliki kepedulian sosial.
Tidak hanya mengajarkan halal dan haram, tetapi juga membangun akhlak, keluarga, ekonomi, pendidikan dan kepedulian terhadap sesama.
Sebab Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Madinah bukan hanya dengan mendirikan bangunan masjid.
Beliau membangun manusia melalui masjid.
Maka mungkin sudah waktunya kita melihat masjid dengan cara yang lebih luas.
Masjid adalah tempat shalat, Tetapi bukan hanya tempat shalat.
Masjid adalah tempat ilmu.
Tempat silaturahmi.
Tempat membangun akhlak.
Tempat mendidik anak muda.
Tempat menolong orang miskin.
Tempat mendamaikan yang berselisih.
Tempat menguatkan keluarga.
Tempat menghidupkan kepedulian sosial.
Dan yang tidak kalah penting
tempat orang yang kehilangan arah menemukan jalan pulang kepada Allah.
Masjid harus memiliki pintu yang terbuka bagi manusia. Bukan hanya pintu bangunannya.
Tetapi juga pintu hatinya.
Kita semua sebenarnya sedang berjalan menuju satu tempat yang sama: kembali kepada Allah.
Ada yang jalannya lurus.
Ada yang berliku.
Ada yang cepat.
Ada yang tersandung berkali-kali.
Ada yang sempat tersesat jauh.
Tetapi selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka.
Maka ketika melihat seseorang yang sedang berusaha kembali kepada Allah, jangan berdiri sebagai hakim.
Berdirilah sebagai saudara. Ulurkan tangan, Temani, Bimbing, Doakan.
Sebab kita pun tidak pernah tahu, siapa yang sebenarnya lebih membutuhkan rahmat Allah.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika kita sendiri sedang jatuh, kita berharap ada sebuah pintu yang masih terbuka untuk kita.
Pintu itu bernama MASJID.
Tempat kita bersujud.
Tempat kita menangis.
Tempat kita belajar.
Tempat kita memperbaiki diri.
Tempat kita mengakui kesalahan.
Dan tempat kita pulang.
Masjid téh tempat balik jelema garelo.
Karena dalam pandangan manusia, seseorang mungkin hanya dikenal dari masa lalunya.
Tetapi dalam pandangan Allah, masa depan seorang hamba masih bisa berubah melalui taubatnya.
Dan boleh jadi, orang yang hari ini kita anggap paling jauh dari Allah, justru sedang berjalan menuju-Nya dengan langkah yang tidak kita ketahui. Jangan tutup pintu masjid bagi mereka yang ingin kembali.
Sebab bisa jadi, pintu masjid itulah pintu pertama yang Allah bukakan menuju pintu ampunan-Nya.(*)
Penulis : KH Muhammad Endang Suratno Wibowo
