Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Wibawa Nusantara Mencintai Allah Melalui Cinta Kepada Nabi,Negara dan Alam

Karawang : Wibawa Nusantara tidak lahir hanya untuk membangun organisasi, mengumpulkan manusia, atau membicarakan kejayaan masa lalu. Wibawa Nusantara ingin menghidupkan kembali satu kesadaran yang lebih dalam bahwa manusia Nusantara harus kembali menemukan hubungan antara dirinya dengan Allah, Rasulullah ﷺ, tanah air, dan alam semesta.
Foto ::Wibawa Nusantara

Sebab cinta kepada Allah tidak boleh berhenti menjadi kata-kata di lisan. Ia harus menjelma menjadi akhlak, pengabdian, kepedulian, dan kebermanfaatan.
Allah Ta'ala berfirman:

«قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ»

«“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.”
(QS. Ali 'Imran: 31)»

Ayat ini memberikan jalan yang sangat jelas. Cinta kepada Allah dibuktikan melalui ittiba' kepada Rasulullah ﷺ. Maka mencintai Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar memperbanyak ungkapan cinta, membaca shalawat, atau merayakan kelahiran beliau. Cinta kepada Rasulullah ﷺ harus melahirkan usaha untuk menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan.
Rasulullah ﷺ adalah rahmat bagi seluruh alam:

«وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ»

«“Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)»

Karena itu, semakin seseorang mencintai Rasulullah ﷺ, seharusnya semakin luas pula kasih sayangnya. Bukan hanya kepada sesama Muslim, tetapi kepada manusia, masyarakat, bangsa, hewan, tumbuhan, air, tanah, dan seluruh ciptaan Allah.

Di sinilah Wibawa Nusantara menempatkan cinta kepada negara dan cinta kepada alam sebagai ruang pengamalan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Bukan berarti mencintai negara sama dengan mencintai Allah. Bukan pula tanah air menjadi objek ibadah. Allah tetap tujuan tertinggi. Rasulullah ﷺ menjadi teladan dan jalan. Sedangkan negara, masyarakat, dan alam menjadi ladang pengabdian.

Kita mencintai Indonesia karena di tanah inilah Allah menitipkan kehidupan kita. Kita menjaga bangsa karena manusia yang hidup di dalamnya adalah amanah. Kita merawat alam karena bumi bukan milik manusia untuk dirusak sesuka hati, tetapi amanah yang harus dijaga.
Allah mengingatkan:

«وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا»

«“Janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A'raf: 56)»

Maka membuang sampah sembarangan bukan sekadar persoalan kebersihan. Merusak hutan bukan sekadar persoalan lingkungan. Mencemari sungai bukan sekadar persoalan tata kota. Korupsi bukan sekadar persoalan hukum. Mengadu domba masyarakat bukan sekadar persoalan politik. Semua itu pada hakikatnya adalah persoalan amanah dan akhlak.

Sebab Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia bersujud kepada Allah di masjid, tetapi juga bagaimana manusia berjalan di muka bumi dengan membawa rahmat.

Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan bahwa menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan bagian dari iman. Beliau juga mengajarkan kasih sayang kepada makhluk dan melarang tindakan yang membawa kerusakan.

Maka kesalehan ekologis sesungguhnya bukan gagasan asing bagi Islam. Ia merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.
Allah berfirman:

«إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً»

«“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.”
(QS. Al-Baqarah: 30)»

Khalifah bukan penguasa yang bebas mengeksploitasi bumi, khalifah adalah pemegang amanah.

Karena itu, Wibawa Nusantara ingin membangun manusia yang ketika mencintai Allah, ia semakin mencintai Rasulullah ﷺ, ketika mencintai Rasulullah ﷺ, ia semakin baik akhlaknya, ketika akhlaknya semakin baik, ia semakin bermanfaat bagi masyarakat, ketika mencintai tanah air, ia tidak merusaknya, dan ketika mencintai alam, ia menjaganya sebagai amanah dari Allah.

Inilah rantai cinta Wibawa Nusantara
Allah → Rasulullah ﷺ → Akhlak → Manusia → Negara → Alam.

Semua bermuara pada satu kesadaran yakni “Aku hidup bukan hanya untuk memiliki bumi, tetapi untuk menjadi rahmat di atas bumi.”

Cinta tanah air pun tidak boleh berhenti pada upacara, bendera, slogan, dan seremonial. Cinta tanah air harus terlihat dari kesediaan membangun pendidikan, menguatkan pesantren, memberdayakan ekonomi masyarakat, menjaga budaya, melahirkan pemimpin berintegritas, membuka lapangan pekerjaan, merawat lingkungan, dan membantu mereka yang lemah.

Begitu pula cinta kepada alam tidak cukup dengan menanam pohon untuk kemudian difoto. Cinta alam berarti menjaga mata air, menjaga tanah, menjaga sungai, menjaga hutan, mengurangi sampah, mengembangkan pertanian yang berkelanjutan, membangun pesantren yang ramah lingkungan dan mengajarkan kepada generasi muda bahwa bumi adalah ayat kauniyah yang harus dibaca dengan hati yang tunduk kepada Allah.

Nusantara sendiri memiliki warisan kebijaksanaan yang panjang. Para leluhur membangun kehidupan dengan kedekatan kepada tanah, air, hutan, laut, dan komunitas. Islam kemudian datang bukan untuk menghapus seluruh kebudayaan, tetapi memberikan orientasi tauhid, sehingga manusia Nusantara belajar bahwa alam bukan sesuatu yang disembah, melainkan ciptaan Allah yang mengantarkan manusia untuk mengenal kebesaran-Nya.

Gunung mengajarkan kebesaran, laut mengajarkan keluasan, hutan mengajarkan keseimbangan, air mengajarkan kehidupan, tanah mengajarkan kerendahan hati dan manusia belajar bahwa seluruh alam sedang bertasbih kepada Tuhannya.

«تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ»

«“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya.”
(QS. Al-Isra: 44)»

Maka seorang manusia yang benar-benar mengenal Allah tidak akan mudah menjadi perusak. Ia akan malu menyakiti ciptaan-Nya. Ia akan malu menghancurkan tanah yang menjadi tempat manusia hidup. Ia akan malu mengotori air yang diminum oleh makhluk. Ia akan malu merusak bangsa yang diwariskan kepada anak cucunya. Wibawa Nusantara ingin melahirkan manusia seperti itu.

Manusia yang kuat tetapi tidak kasar.
Berani tetapi tidak arogan.
Berilmu tetapi tidak sombong.
Mencintai tradisi tetapi tidak terjebak pada romantisme masa lalu.
Mencintai modernitas tetapi tidak kehilangan akar.
Mencintai Indonesia tetapi tetap menempatkan Allah di atas segala kecintaan.
Mencintai Rasulullah ﷺ bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan menghadirkan rahmatnya dalam kehidupan.

Pada akhirnya, wibawa sebuah bangsa tidak dimulai dari gedung yang tinggi. Ia dimulai dari manusia yang memiliki hati yang tinggi dan hati yang tinggi adalah hati yang mengenal Tuhannya.

Wibawa Nusantara ingin mengajak Cintai Allah, Ikuti Rasulullah ﷺ, perbaiki akhlak, cintai manusia, rawat negeri, jaga alam, bangun peradaban.
Bukan nasionalisme tanpa Tuhan.
Bukan spiritualitas yang meninggalkan bangsa.
Bukan kecintaan kepada alam yang kehilangan tauhid. Tetapi tauhid yang melahirkan rahmat, rahmat yang melahirkan pengabdian, dan pengabdian yang meninggalkan jejak peradaban.
Itulah jalan Wibawa Nusantara.

Dari cinta kepada Allah, lahir cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Dari cinta kepada Rasulullah ﷺ, lahir akhlak.
Dari akhlak, lahir pengabdian.
Dari pengabdian, lahir bangsa yang berwibawa.
Dan dari bangsa yang berwibawa, lahirlah peradaban yang membawa rahmat bagi alam.

Wibawa Nusantara bukan sekadar gerakan untuk membangun Nusantara.

Ia adalah ikhtiar membangun manusia Nusantara agar kembali menjadi manusia yang mengenal Tuhannya, mencintai Nabinya, mencintai negerinya, dan menjadi rahmat bagi alam semesta.

Penulis:Muhammad ESW

Hide Ads Show Ads