Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Kisah Pilu di Tepi Cicatih Parungkuda: Panik Dikejar Warga Usai Diduga Curi HP, Pria 45 Tahun Tewas di Arus Deras

Sukabumi; Di tepi Sungai Cicatih yang mengalir deras di wilayah Parungkuda–Ciambar, Kabupaten Sukabumi, sebuah kisah tanpa nama berakhir begitu saja.
Kisah Pilu di Tepi Cicatih Parungkuda: Panik Dikejar Warga Usai Diduga Curi HP, Pria 45 Tahun Tewas di Arus Deras

Rabu siang, 14 Oktober 2026. Seorang pria berambut lurus panjang diduga mencuri telepon genggam milik warga di Musala Kantor Kecamatan Parungkuda. Saat dikejar, rasa panik menyelimutinya. Tanpa berpikir panjang, ia melompat ke sungai yang berarus deras. Air itu tidak memberi kesempatan kedua.

Kamis pagi, 15 Oktober 2026. Tim SAR gabungan akhirnya menemukan tubuhnya di dasar sungai. Tidak ada identitas. Tidak ada keluarga yang menangis di tepi sungai. Hanya jasad seorang pria yang kini menjadi misteri.

Ia kemudian dibawa ke RSUD Sekarwangi. Di dalam lemari pendingin Instalasi Forensik, tubuhnya terbaring dingin, menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang. Hari berganti hari. Sidik jari diperiksa. Foto wajah dicocokkan dengan data Disdukcapil Kabupaten Sukabumi. Tidak ada hasil. Bahkan ada yang mengirim pesan lewat media sosial menanyakan kondisinya, tetapi ternyata orang itu bukan kerabat.

Selasa pagi, 20 Oktober 2026. Setelah menerima Berita Acara Pemeriksaan (BAP) resmi dari kepolisian, pihak rumah sakit memutuskan: ia harus dimakamkan.

Tanpa nama.
Tanpa nisan yang bertuliskan siapa dirinya.
Tanpa air mata keluarga.

Di area belakang TPU BLUD RSUD Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, petugas kamar jenazah dan unit ambulans menguburkannya. Polisi tidak ikut menggali tanah. Mereka hanya memberikan dokumen, jaga-jaga jika kelak ada yang datang.

Menurut perkiraan medis, pria itu berusia sekitar 45 tahun, tinggi badan 170 sentimeter, berkumis tipis, dan memiliki janggut. Ciri-ciri itu kini menjadi satu-satunya jejak yang tersisa. Siapa pun yang merasa kehilangan, diminta datang ke Polsek Parungkuda.

Hingga liang lahat ditutup, identitasnya tetap gelap gulita.

Ia datang tanpa nama. Ia pergi tanpa nama. Dan dunia hanya mengingatnya sebagai “terduga maling HP yang terjun ke sungai”.

Sementara di bawah tanah yang merah, di sebuah sudut pemakaman rumah sakit, seseorang yang pernah punya nama, punya keluarga, punya cerita, kini hanya menjadi bayangan yang tak pernah diklaim.(*)