Menag di Perayaan Deepawali: Cahaya Jangan Hanya di Ruang, Tapi Juga di Batin


Foto : Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar


JAKARTA – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengajak umat Hindu menjadikan perayaan Hari Raya Deepawali sebagai momentum untuk menerangi batin, menjernihkan pikiran, dan menegakkan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Nasaruddin, makna cahaya dalam Deepawali tidak semestinya berhenti pada keindahan penerangan secara fisik, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku dan kehidupan batin manusia.

“Jangan berhenti pada pencahayaan ruang-ruang ini, jangan berhenti pada indahnya warna-warni pencahayaan ruang dan cahaya yang berwarna-warni. Tapi, cahaya di dalam ruang ibadah ini juga harus mewarnai keindahan batin kita semua. Harus mencerahkan batin kita, pikiran kita,” ujar Nasaruddin saat menghadiri Perayaan Hari Raya Deepawali di Murugan Temple, Jakarta Barat, Minggu, 8 November 2026.

Ia menambahkan, pesan Deepawali menjadi semakin relevan di tengah kehidupan saat ini yang memasuki era post-truth. Menurutnya, kondisi tersebut membuat batas antara kebenaran dan kebatilan semakin sulit dibedakan, sebagaimana konsep Dharma dan Adharma dalam ajaran Hindu.

“Dalam era post-truth zaman sekarang ini, di mana kebenaran dan kebatilan itu kadang-kadang sulit kita bedakan. Antara dharma dengan adharma itu sulit kita bedakan,” ungkapnya.

Nasaruddin menyoroti sejumlah faktor yang dapat memengaruhi penilaian manusia terhadap kebenaran, di antaranya uang, media sosial, dan politik. Ia mencontohkan, sesuatu yang seharusnya dipandang sebagai kebatilan dapat berubah penilaiannya karena pengaruh uang. Begitu pula media sosial yang dapat membentuk persepsi publik hingga memutarbalikkan penilaian terhadap seseorang. Karena itu, ia mengajak umat untuk tetap konsisten berpihak pada kebenaran.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya fungsi rumah ibadah sebagai ruang bagi umat untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri. Nasaruddin mengibaratkan rumah ibadah sebagai meeting point antara manusia dengan Tuhan sekaligus bengkel spiritual untuk memperbaiki kualitas batin.

“Jadi rumah ibadah ini adalah bengkel spiritual. Bengkel untuk meluruskan pikiran kita yang selama ini bengkok. Untuk melembutkan hati kita yang selama ini mungkin keras. Untuk menyucikan batin kita yang selama ini kotor,” pungkasnya.(*)
Baca Juga:
Tersalin 👍

Berita Terbaru

  • Menag di Perayaan Deepawali: Cahaya Jangan Hanya di Ruang, Tapi Juga di Batin
  • Menag di Perayaan Deepawali: Cahaya Jangan Hanya di Ruang, Tapi Juga di Batin
  • Menag di Perayaan Deepawali: Cahaya Jangan Hanya di Ruang, Tapi Juga di Batin
  • Menag di Perayaan Deepawali: Cahaya Jangan Hanya di Ruang, Tapi Juga di Batin
  • Menag di Perayaan Deepawali: Cahaya Jangan Hanya di Ruang, Tapi Juga di Batin
  • Menag di Perayaan Deepawali: Cahaya Jangan Hanya di Ruang, Tapi Juga di Batin

Posting Komentar