Apa Tujuan Hidup Itu ..? Berikut Keterangan Ulama Muda Karawang
Karawang : “Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang memiliki tujuan lebih besar darimu.” Kalimat ini bukan sekadar motivasi, melainkan sebuah hukum sosial yang telah diamati oleh para nabi, ulama, filsuf, hingga ilmuwan modern.
Manusia adalah makhluk yang saling memengaruhi. Cara berpikir, cara berbicara, standar hidup, bahkan cita-cita, perlahan dibentuk oleh lingkungan tempat ia menghabiskan waktunya.
Dalam Islam, tujuan hidup yang besar bukanlah sekadar mengejar kekayaan, popularitas, atau kekuasaan. Tujuan terbesar adalah meraih ridha Allah, menjadi manusia yang paling bermanfaat bagi sesama, serta meninggalkan warisan amal yang terus mengalir hingga setelah kematian. Karena itu, lingkungan yang paling berharga bukanlah lingkungan yang dipenuhi orang-orang kaya atau berpengaruh, melainkan lingkungan yang membuat iman semakin kuat, ilmu semakin luas, akhlak semakin mulia, dan manfaat semakin besar.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119).
Perintah itu tidak berhenti pada ketakwaan, tetapi juga mengarahkan manusia untuk memilih lingkungan yang dipenuhi orang-orang jujur dan saleh. Sebab kebersamaan adalah pintu masuk pengaruh yang sangat kuat terhadap kepribadian seseorang.
Allah juga berfirman:
﴿وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ﴾
“Bersabarlah engkau bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang, mengharap keridaan-Nya.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Rasulullah ﷺ menguatkan prinsip tersebut melalui sabdanya:
“Seseorang mengikuti agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan siapa yang dijadikannya teman dekat.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan At-Tirmidzi no. 2378, hasan).
Beliau juga bersabda:
“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi.” (HR. Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 2628).
Penjual minyak wangi mungkin tidak memberimu sebotol parfum, tetapi engkau akan pulang membawa harum. Pandai besi mungkin tidak sengaja membakarmu, tetapi percikan apinya atau asapnya tetap akan mengenai pakaianmu. Begitulah lingkungan bekerja. Ia mengubah seseorang sedikit demi sedikit hingga perubahan itu terasa sebagai bagian dari dirinya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin menjelaskan bahwa tabiat manusia sangat mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang sering berinteraksi dengannya. Akhlak berpindah melalui kebiasaan, kedekatan, dan pergaulan. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam Al-Fawa’id juga menggambarkan pentingnya memilih sahabat yang mengingatkan kepada Allah, karena teman sejati bukan hanya menemani perjalanan hidup, tetapi juga menjaga arah perjalanan itu. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, *“Nilailah seseorang dari teman-temannya, karena seseorang akan mengikuti kebiasaan sahabatnya.”* (Dinukil dari kitab Al-Ibanah karya Ibnu Baththah).
Jauh sebelum psikologi modern berkembang, Aristoteles dalam Nicomachean Ethics telah menjelaskan bahwa persahabatan tertinggi adalah persahabatan yang dibangun di atas kebajikan (virtue), yaitu hubungan yang membuat kedua belah pihak bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Plato dalam Republic juga menegaskan bahwa karakter manusia dibentuk oleh pendidikan dan lingkungan sosial tempat ia hidup.
Temuan-temuan ilmu modern justru menguatkan pengamatan tersebut. Albert Bandura melalui Social Learning Theory (1977) menjelaskan bahwa manusia belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap perilaku orang lain. James Clear dalam Atomic Habits (2018) menunjukkan bahwa perubahan perilaku jauh lebih mudah terjadi ketika seseorang berada dalam lingkungan yang mendukung kebiasaan baik. Sementara Jim Rohn mempopulerkan ungkapan, *“You are the average of the five people you spend the most time with.”* Walaupun kalimat ini bukan dalil ilmiah, gagasannya sejalan dengan banyak penelitian psikologi sosial tentang besarnya pengaruh lingkungan terhadap pola pikir dan perilaku manusia.
Leluhur Sunda telah lama mengingatkan “Silih asah, silih asih, silih asuh.” Saling mengasah ilmu, saling mengasihi hati, dan saling mengasuh kehidupan. Sebuah masyarakat akan menjadi kuat bukan karena banyaknya orang pintar, tetapi karena orang-orang pintarnya mau saling menguatkan. Dalam petuah Sunda lainnya dikatakan, “Hade ku omong, goreng ku omong.” Kebaikan dan keburukan sering kali bermula dari ucapan dan lingkungan yang mengitarinya.
Leluhur Jawa juga meninggalkan nasihat mendalam: “Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.” Kemuliaan seseorang tampak dari lisannya, dan kemuliaan raganya tampak dari penampilannya.
Maka siapa yang setiap hari mendengar ucapan-ucapan mulia, lambat laun lisannya pun akan menjadi mulia. Ada pula pepatah, “Sapa sing nandur bakal ngundhuh.” Siapa yang menanam, dialah yang akan memanen. Menanam pergaulan yang baik akan memanen masa depan yang baik.
Karena itu, jangan hanya mencari teman yang membuatmu nyaman. Carilah orang-orang yang membuatmu berpikir lebih luas, bekerja lebih sungguh-sungguh, beribadah lebih khusyuk, berani bermimpi lebih besar, dan berkontribusi lebih banyak. Berada di tengah orang-orang hebat tidak akan mengecilkan dirimu. Justru mereka menjadi cermin yang memperlihatkan sejauh mana potensi yang masih bisa engkau tumbuhkan.
Leluhur Sunda berkata, *“Ulah kagok ku banda, ulah reueus ku pangkat.”* Jangan silau oleh harta, jangan mabuk oleh jabatan. Dan leluhur Jawa mengingatkan, “Urip iku urup.” Hidup itu hendaknya memberi nyala, memberi manfaat bagi sekitar.
Ambisi memang menular. Namun sebagai seorang muslim, pastikan yang menular bukan ambisi dunia yang melahirkan kesombongan, melainkan himmah yang tinggi untuk mencari ridha Allah, membangun peradaban, menebarkan manfaat, dan meninggalkan amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat. Sebab pada akhirnya, masa depan seseorang sering kali merupakan pantulan dari lingkungan yang ia pilih untuk membersamai hidupnya.
Sebagaimana petuah Sunda “Tong ngukur batur ku awak sorangan.” Jangan mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri.
Dan sebagaimana petuah Jawa “Memayu hayuning bawana.”
Tugas manusia bukan hanya memperbaiki dirinya, tetapi juga memperindah dan memperbaiki dunia di sekelilingnya. Itulah ambisi yang layak ditularkan yakni "ambisi untuk menjadi hamba Allah yang paling bermanfaat bagi umat dan peradaban." (*)
