Mengapa Hidup Kita Dibentuk oleh Pilihan, Bukan Keadaan?
Karawang:: Pernahkah kita merasa hidup ini tidak adil?
Ada yang lahir dalam keluarga berkecukupan, sementara yang lain harus berjuang sejak kecil. Ada yang diberi kecerdasan, ada yang diberi kekuatan, ada pula yang diuji dengan berbagai keterbatasan.
Lalu muncul pertanyaan yang hampir semua orang pernah tanyakan.
Apakah masa depan kita sudah ditentukan, atau masih bisa diubah?
Banyak orang berhenti berjuang karena merasa semuanya sudah menjadi takdir.
Padahal, mereka sering mencampuradukkan antara takdir dan pilihan.
Takdir adalah wilayah Allah.
Pilihan adalah wilayah manusia.
Kita tidak memilih dilahirkan di keluarga mana.
Kita tidak memilih warna kulit.
Kita tidak memilih kapan dilahirkan.
Tetapi kita memilih apakah akan belajar atau bermalas-malasan.
Kita memilih jujur atau berbohong.
Kita memilih memaafkan atau menyimpan dendam.
Kita memilih bangkit atau menyerah.
Di situlah letak kemuliaan manusia.
Allah tidak akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang tidak kita pilih.
Tetapi Allah akan meminta pertanggungjawaban atas setiap pilihan yang kita ambil.
Karena itu Allah berfirman,
> إنا هديناه السبيل إما شاكرا وإما كفورا
"Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, ada yang memilih bersyukur dan ada pula yang memilih kufur." (QS. Al-Insan: 3)
Allah menunjukkan jalan.
Yang memilih adalah manusia.
Inilah mengapa Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita berikhtiar sekuat tenaga, kemudian bertawakal.
Beliau bersabda,
> احرص على ما ينفعك، واستعن بالله ولا تعجز
"Bersungguh-sungguhlah meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah." (HR. Muslim)
Perhatikan urutannya.
Berusaha.
Memohon pertolongan.
Jangan menyerah.
Bukan pasrah sebelum berikhtiar.
Dalam psikologi modern dikenal istilah *locus of control.* Orang yang memiliki internal locus of control meyakini bahwa keputusan dan tindakannya memengaruhi masa depannya. Sebaliknya, mereka yang selalu menyalahkan keadaan cenderung kehilangan daya untuk berubah.
Lalu bagaimana Islam memandang hubungan antara takdir dan pilihan manusia?
Sejak masa awal Islam, para ulama telah membahas persoalan ini dengan sangat mendalam.
Sebagian kelompok yang dikenal sebagai Jabariyah berpendapat bahwa manusia tidak memiliki pilihan. Semua perbuatan manusia sepenuhnya dipaksa oleh kehendak Allah. Manusia diibaratkan seperti daun yang tertiup angin, tidak memiliki kuasa sedikit pun atas tindakannya.
Di sisi lain, Qadariyah yang kemudian berkembang dalam sebagian pemikiran Mu'tazilah berpendapat bahwa manusialah yang menciptakan seluruh perbuatannya sendiri. Dalam pandangan ini, kehendak manusia menjadi sangat dominan.
Ahlussunnah wal Jama'ah mengambil jalan yang berbeda. Jalan pertengahan yang menjaga keseimbangan antara keimanan kepada qadha dan qadar Allah serta tanggung jawab manusia atas pilihannya.
Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari* dalam Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah menjelaskan bahwa seluruh yang terjadi berada dalam ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah. Namun manusia tetap diberi ikhtiar (kasb) sehingga layak menerima pahala maupun hukuman.
Beliau mengutip prinsip akidah yang telah diwariskan para ulama Ahlussunnah:
والله خالق أفعال العباد، والعباد لهم كسب يترتب عليه الثواب والعقاب
"Allah adalah Pencipta seluruh perbuatan hamba, sedangkan hamba memiliki ikhtiar (kasb) yang menjadi dasar diberikannya pahala dan siksa."
Prinsip ini juga selaras dengan firman Allah:
وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين
"Dan kalian tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila Allah, Tuhan semesta alam, menghendakinya." (QS. At-Takwir: 29)
Namun pada saat yang sama Allah juga berfirman:
فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر
"Maka siapa yang menghendaki hendaklah ia beriman, dan siapa yang menghendaki hendaklah ia kafir." (QS. Al-Kahfi: 29)
Sepintas kedua ayat ini tampak berbeda. Padahal keduanya justru saling melengkapi.
Ayat pertama menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak Allah.
Ayat kedua menegaskan bahwa manusia tetap diberi ruang untuk memilih sehingga ia bertanggung jawab atas pilihannya.
Inilah keseimbangan akidah Ahlussunnah wal Jama'ah.
Kita tidak boleh menyalahkan takdir atas dosa yang kita lakukan, seolah-olah kita dipaksa. Tetapi kita juga tidak boleh merasa bahwa keberhasilan kita murni hasil kemampuan sendiri tanpa pertolongan Allah.
Karena itu para ulama Ahlussunnah mengajarkan satu prinsip yang indah:
الأخذ بالأسباب لا ينافي التوكل
"Mengambil sebab-sebab (berikhtiar) tidak bertentangan dengan tawakal."
Kita berusaha sekuat tenaga seakan keberhasilan bergantung pada ikhtiar kita.
Namun kita bertawakal sepenuh hati karena kita yakin hasil akhirnya berada dalam kehendak Allah.
Di situlah letak kemuliaan seorang mukmin. Ia tidak menjadi orang yang pasrah tanpa usaha, tetapi juga tidak menjadi orang yang sombong karena merasa mampu tanpa pertolongan Allah.
Ahlussunah waljama'ah telah mengajarkan keseimbangan yang lebih utuh. Kita meyakini bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, tetapi dalam saat yang sama kita diperintahkan memilih jalan yang benar dan berusaha dengan sungguh-sungguh.
Di sinilah masa depan mulai dibangun.
Bukan oleh satu keputusan besar.
Tetapi oleh keputusan-keputusan kecil yang kita ulang setiap hari.
Memilih bangun sebelum Subuh.
Memilih menambah ilmu.
Memilih menepati janji.
Memilih menjaga amanah.
Memilih berkata jujur ketika berbohong terasa lebih mudah.
Pilihan-pilihan kecil itulah yang perlahan membentuk karakter.
Karakter membentuk budaya.
Budaya melahirkan peradaban.
Karena itu, jangan terlalu sibuk menebak masa depan.
Lebih baik sibuk memperbaiki pilihan hari ini.
Sebab masa depan bukan sesuatu yang datang kepada kita.
Masa depan adalah sesuatu yang sedang kita bangun, satu keputusan demi satu keputusan.
Takdir adalah peta yang Allah bentangkan. Pilihan adalah langkah yang kita pertanggungjawabkan. Masa depan lahir bukan dari apa yang kita harapkan, tetapi dari keputusan yang kita ulang setiap hari.(*)
