81 Tahun Merdeka, Jangan Sampai Indonesia Terjajah kembali
Karawang: Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka. Sang Merah Putih terus berkibar di seluruh penjuru negeri. Lagu kebangsaan dinyanyikan, upacara digelar, dan berbagai perayaan kemerdekaan berlangsung dengan semarak.
Namun di tengah gegap gempita peringatan kemerdekaan, ada pertanyaan yang seharusnya lebih sering kita ajukan kepada diri sendiri.
Apakah kita benar-benar telah merdeka?
Pertanyaan ini bukan untuk mengecilkan arti Proklamasi 17 Agustus 1945. Justru sebaliknya, pertanyaan ini lahir dari kesadaran bahwa kemerdekaan adalah amanah besar yang tidak selesai hanya dengan mengusir penjajah dari tanah air.
Para pendiri bangsa telah membebaskan Indonesia dari penjajahan politik. Tugas generasi setelahnya adalah memastikan bangsa ini tidak kembali berada dalam bentuk penjajahan yang berbeda.
Sebab penjajahan dapat berubah wajah.
Dahulu penjajah datang membawa senjata, kapal perang dan pasukan.
Hari ini, pengaruh dapat datang melalui arus informasi, budaya populer, ketergantungan ekonomi, teknologi, gaya hidup, bahkan melalui cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.
Kita mungkin tidak lagi diduduki tentara asing.
Tetapi jangan sampai pikiran kita diduduki oleh ketergantungan.
Jangan sampai budaya kita kehilangan harga diri. Jangan sampai ekonomi kita hanya menjadikan rakyat sebagai konsumen.
Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi alat kemajuan justru membuat manusia kehilangan kendali atas dirinya.
Dan yang paling berbahaya, jangan sampai kita menjadi bangsa yang secara politik merdeka tetapi secara mental merasa selalu lebih rendah daripada bangsa lain.
Kemerdekaan bukan alasan untuk terlena, kemerdekaan seharusnya membuat sebuah bangsa semakin waspada, bukan semakin lengah.
Bung Karno pernah mengingatkan bangsa Indonesia agar tidak sekali-kali meninggalkan sejarah. Pesan tersebut bukan sekadar ajakan untuk menghafal masa lalu. Sejarah adalah ingatan kolektif tentang harga yang pernah dibayar untuk memperoleh kemerdekaan.
Kemerdekaan Indonesia tidak turun dari langit, Ia lahir dari perjuangan panjang. Ada ulama yang menggerakkan umat, ada santri yang mengangkat senjata, ada petani yang memberi makan perjuangan ada pemuda yang mengikrarkan Sumpah Pemuda, ada rakyat biasa yang mempertaruhkan kehidupan ada darah, air mata, pengorbanan dan doa yang mengiringi perjalanan bangsa ini.
Karena itu, generasi hari ini tidak boleh memperlakukan kemerdekaan sebagai sesuatu yang otomatis akan selalu ada.
Kemerdekaan harus dirawat, diisi, dijaga, ddiwariskan dalam keadaan lebih baik kepada generasi berikutnya.
Nabi Muhammad mengajarkan masyarakat yang berdaulat dan bertanggung jawab
Dalam perspektif Islam, manusia tidak diajarkan untuk hidup tanpa tanggung jawab terhadap masyarakatnya.
Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini seharusnya menjadi bahan renungan dalam kehidupan berbangsa.
Pemimpin bertanggung jawab terhadap rakyatnya.
Orang tua bertanggung jawab terhadap keluarganya.
Guru bertanggung jawab terhadap muridnya.
Ulama bertanggung jawab terhadap umatnya.
Pengusaha bertanggung jawab terhadap pekerjanya dan masyarakat.
Dan setiap warga negara mempunyai tanggung jawab sesuai dengan kapasitasnya.
Dengan demikian, mencintai dan menjaga negeri bukan sekadar persoalan slogan. Ia merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia terhadap kehidupan bersama.
Rasulullah ﷺ juga membangun masyarakat Madinah dengan prinsip kehidupan bersama, perjanjian, keadilan, perlindungan terhadap kelompok yang berbeda dan tanggung jawab kolektif.
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi masyarakat yang lemah, bodoh dan mudah dikendalikan.
Islam mengajarkan umatnya menjadi manusia yang berilmu, berakhlak, amanah, adil dan memiliki kekuatan untuk menjaga kemaslahatan.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an
«وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ»
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”
(QS. Al-Anfal 60)
Ayat ini berbicara dalam konteks pertahanan dan kesiapsiagaan. Namun semangat persiapannya mengajarkan bahwa sebuah masyarakat tidak boleh hidup dalam kelengahan.
Kekuatan, ilmu, ekonomi, teknologi, pendidikan dan yang lebih utama adalah karakter harus dipersiapkan. Bangsa yang tidak mempersiapkan dirinya akan mudah ditentukan oleh kekuatan dari luar.
Penjajahan pikiran adalah ancaman yang paling halus. Penjajahan fisik dapat dilawan dengan senjata.
Penjajahan pikiran jauh lebih rumit karena orang yang dijajah terkadang tidak merasa dirinya sedang dijajah.
Ia bahkan dapat merasa sedang menikmati kebebasan.
Ketika masyarakat kehilangan kemampuan berpikir kritis, mudah diseret oleh propaganda, mudah diprovokasi, mudah membeli karena gengsi, mudah membenci karena informasi yang belum tentu benar, dan mudah meninggalkan nilai-nilai sendiri hanya karena mengikuti tren, maka saat itulah kedaulatan pikiran mulai melemah.
Kita harus berani bertanya.
Siapa yang membentuk cara berpikir anak-anak kita?
Siapa yang menentukan apa yang mereka anggap keren?
Siapa yang menentukan apa yang mereka konsumsi?
Siapa yang menentukan apa yang mereka cita-citakan?
Siapa yang mengendalikan data dan teknologi yang mereka gunakan?
Siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari perilaku konsumsi masyarakat kita?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan bentuk kebencian terhadap dunia luar.
Justru inilah bentuk kewaspadaan sebuah bangsa yang dewasa.
Kita tidak boleh menjadi bangsa yang anti terhadap dunia. Tetapi kita juga tidak boleh menjadi bangsa yang kehilangan kemampuan menyaring dunia.
Terbuka kepada kemajuan, tetapi tetap memiliki akar. Menerima ilmu dari mana pun datangnya, tetapi tidak kehilangan jati diri.
Bergaul dengan bangsa lain, tetapi tetap berdiri dengan kehormatan sendiri.
Bung Hatta dan perjuangan menuju kedaulatan ekonomi
*Kemerdekaan politik tanpa kemandirian ekonomi akan selalu menghadapi persoalan.*
Mohammad Hatta memahami bahwa perekonomian Indonesia harus dibangun dengan semangat kebersamaan, kekeluargaan dan kepentingan rakyat sebagaimana tercermin dalam Pasal 33 UUD 1945.
Karena itu, Indonesia tidak boleh selamanya hanya menjadi pasar, *Kita harus menjadi produsen.*
Tidak cukup hanya menjadi konsumen teknologi.
Kita harus melahirkan pencipta teknologi.
Tidak cukup hanya membeli merek.
Kita harus membangun merek Indonesia.
Tidak cukup hanya mencari pekerjaan.
Kita harus menciptakan lapangan pekerjaan.
Tidak cukup hanya mengirim tenaga kerja.
Kita harus membangun industri yang menghasilkan nilai tambah di dalam negeri.
*Pesantren harus didorong menjadi pusat pendidikan sekaligus pemberdayaan ekonomi.*
Santri harus memiliki kemampuan agama sekaligus keterampilan hidup.
Pemuda harus memiliki keberanian menjadi pengusaha.
Petani harus mendapatkan akses terhadap teknologi dan pasar.
Nelayan harus mendapatkan penguatan ekonomi.
Koperasi harus kembali menjadi kekuatan rakyat.
Karena kedaulatan ekonomi bukan sekadar angka pertumbuhan.
Kedaulatan ekonomi adalah ketika rakyat memiliki kemampuan untuk berdiri, bekerja, menghasilkan dan menentukan masa depannya sendiri.
Ki Hadjar Dewantara dan pendidikan yang memerdekakan, memberikan warisan pendidikan yang sangat mendalam melalui prinsip
Ing ngarso sung tulodo.
Ing madyo mangun karso.
Tut wuri handayani.
Di depan memberi teladan.
Di tengah membangun semangat.
Di belakang memberikan dorongan.
Pendidikan semacam inilah yang dibutuhkan Indonesia. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan manusia yang pandai mengerjakan ujian. Pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu berpikir.
Mampu bertanya.
Mampu membaca zaman.
Mampu mencipta.
Mampu bekerja.
Mampu memimpin.
Mampu mengambil keputusan.
Dan yang paling penting, mampu mempertanggungjawabkan ilmunya di hadapan Allah dan masyarakat.
Rasulullah ﷺ menempatkan ilmu pada kedudukan yang sangat tinggi. Dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.
Karena itu, perjuangan pendidikan sesungguhnya merupakan perjuangan peradaban.
Bangsa yang menguasai ilmu memiliki masa depan.
Bangsa yang meninggalkan ilmu akan bergantung kepada bangsa lain.
Leluhur Sunda mengajarkan manusia untuk saling menguatkan, Nusantara tidak kekurangan warisan kebijaksanaan. Dalam budaya Sunda kita mengenal ungkapan Silih asah, silih asih, silih asuh.
Saling mencerdaskan.
Saling menyayangi.
Saling membimbing.
Filosofi tersebut sangat relevan untuk Indonesia hari ini.
Orang yang memiliki ilmu tidak seharusnya menggunakan ilmunya untuk merendahkan orang lain.
Orang kaya tidak seharusnya melupakan masyarakat yang lemah.
Orang yang memiliki kekuasaan tidak seharusnya menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Yang kuat membantu yang lemah.
Yang pintar mencerdaskan yang belum mendapatkan kesempatan.
Yang berada mengangkat yang kekurangan.
Sebab bangsa yang kuat bukan bangsa yang seluruh rakyatnya memiliki kemampuan yang sama.
Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu membuat kelebihan sebagian orang menjadi kekuatan bersama.
Dalam khazanah Jawa dikenal falsafah Hamemayu Hayuning Bawana, sebuah pandangan tentang kewajiban manusia menjaga keharmonisan dan kebaikan kehidupan.
Kemajuan tidak boleh mengorbankan kemanusiaan.
Pembangunan tidak boleh menghancurkan alam.
Kekayaan tidak boleh melahirkan keserakahan.
Kekuasaan tidak boleh melahirkan penindasan.
Teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan nilai kemanusiaannya.
Inilah wajah kemajuan yang seharusnya kita bangun.
Indonesia tidak membutuhkan sekadar manusia yang pintar.
Indonesia membutuhkan manusia yang pintar sekaligus bijaksana.
Dari seluruh penjuru Nusantara kita belajar tentang persatuan
Aceh memiliki sejarah panjang perjuangan.
Jawa memiliki warisan kebudayaan dan intelektual yang kuat.
Sunda memiliki falsafah kehidupan yang kaya.
Minangkabau memiliki tradisi intelektual dan semangat merantau.
Bugis memiliki warisan keberanian dan harga diri.
Bali memiliki tradisi kebudayaan yang kuat.
Maluku, Papua, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan berbagai wilayah lainnya memiliki sejarah perjuangan dan kebudayaan masing-masing.
Semua itu bukan alasan untuk saling membanggakan diri secara sempit. Justru dari keberagaman itulah Indonesia dibangun.
Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan yang ditempel di bawah lambang Garuda. Ia adalah pekerjaan besar yang harus terus dirawat.
Kita berbeda suku.
Berbeda bahasa daerah.
Berbeda budaya.
Berbeda tradisi.
Tetapi kita berada dalam rumah sejarah yang sama.
Rumah bernama Indonesia.
Jangan sampai kita menjadi bangsa yang hanya pandai mengenang, Setiap tahun kita mengenang para pahlawan.
Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita meneruskan pekerjaan mereka.
Pahlawan dahulu berjuang melawan penjajahan fisik. Generasi sekarang harus berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, ketergantungan, korupsi, intoleransi, perpecahan, kerusakan lingkungan dan keterbelakangan.
Mereka dahulu mempertaruhkan nyawa.
Kita hari ini harus mempertaruhkan waktu, pikiran, ilmu, tenaga dan kemampuan.
Jangan sampai penghormatan kepada pahlawan hanya berhenti pada upacara.
Cara terbaik menghormati pahlawan adalah meneruskan cita-cita mereka.
Jika dahulu mereka berjuang agar Indonesia merdeka, maka tugas kita adalah memastikan Indonesia tetap merdeka.
Jika dahulu mereka berjuang agar bangsa ini memiliki martabat, maka tugas kita adalah menjaga martabat itu.
Jika dahulu mereka berjuang agar anak cucunya dapat hidup lebih baik, maka tugas kita adalah membangun masa depan yang lebih baik untuk generasi setelah kita.
Indonesia membutuhkan generasi yang terjaga
Wahai generasi muda Indonesia.
Jangan menjadi generasi yang hanya sibuk mengejar popularitas.
Jangan biarkan algoritma menentukan seluruh arah hidupmu.
Jangan biarkan tren menentukan harga dirimu.
Jangan biarkan konsumsi menjadi ukuran keberhasilan.
Jangan biarkan kemewahan menjadi satu-satunya definisi kebahagiaan.
Bacalah sejarah.
Pelajarilah agama.
Kuasailah teknologi.
Pelajarilah bahasa dunia.
Bangun jejaring internasional.
Tetapi jangan pernah kehilangan akar.
Kuasai dunia tanpa kehilangan Indonesia.
Pergilah sejauh mungkin untuk belajar, tetapi bawalah pulang ilmu itu untuk membangun tanah air.
Jadilah manusia global yang tetap memiliki jiwa Nusantara.
Kemerdekaan harus berkibar di dalam dada
Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya persoalan bendera yang berkibar di atas tiang.
Kemerdekaan adalah ketika ilmu berkibar dalam pikiran.
Kejujuran berkibar dalam perilaku.
Keberanian berkibar dalam perjuangan.
Keadilan berkibar dalam kebijakan.
Kemandirian berkibar dalam ekonomi.
Budaya berkibar dalam kehidupan.
Dan merah putih berkibar dalam hati setiap anak bangsa.
Rasulullah ﷺ bersabda
«المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف»
“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
Hadis riwayat Muslim ini memberikan pesan penting bahwa kekuatan tidak boleh dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kesalehan.
Kekuatan harus diarahkan kepada kebaikan.
Kekuatan ilmu.
Kekuatan iman.
Kekuatan akhlak.
Kekuatan ekonomi.
Kekuatan pendidikan.
Kekuatan persatuan.
Kekuatan teknologi.
Kekuatan pertahanan.
Semua itu harus menjadi sarana menjaga kemaslahatan bangsa dan umat.
Delapan puluh satu tahun bukan sekadar angka
Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka seharusnya menjadi momentum untuk melakukan introspeksi.
Kita jangan hanya bertanya berapa banyak pembangunan yang sudah dilakukan.
Kita juga harus bertanya manusia seperti apa yang sedang kita bangun.
Apakah generasi kita semakin berilmu?
Apakah semakin berkarakter?
Apakah semakin mandiri?
Apakah semakin produktif?
Apakah semakin peduli kepada sesama?
Apakah semakin mencintai tanah air?
Apakah semakin mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain?
Karena pembangunan sejati bukan hanya tentang gedung yang semakin tinggi.
Pembangunan sejati adalah ketika manusianya semakin tinggi kualitasnya.
Jangan hanya merayakan kemerdekaan
Mari berhenti sejenak dari euforia.
Mari menyalakan kesadaran.
Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang tertidur di atas kekayaan alamnya sendiri.
Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang kehilangan kepercayaan kepada kemampuan sendiri.
Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang mudah dipecah oleh perbedaan.
Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang hanya menjadi pasar.
Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang meninggalkan sejarah.
Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang kehilangan akar budayanya.
Dan Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang merdeka secara politik tetapi kehilangan kedaulatan dalam menentukan masa depannya.
Kita harus bangkit.
Bangkit dengan ilmu.
Bangkit dengan iman.
Bangkit dengan ekonomi.
Bangkit dengan pendidikan.
Bangkit dengan teknologi.
Bangkit dengan kebudayaan.
Bangkit dengan persatuan.
Bangkit dengan karakter.
Dan bangkit dengan kesadaran bahwa kemerdekaan adalah amanah.
Sang Merah Putih telah berkibar selama 81 tahun.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita mampu mempertahankan bendera itu tetap berkibar di udara.
Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah
Apakah kita mampu membuat merah putih tetap berkibar dalam jiwa bangsa Indonesia?
Jika jawabannya ya, maka perjuangan belum selesai.
Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang terus berjuang agar tidak pernah kembali menjadi bangsa yang dapat dikendalikan oleh siapa pun.
Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak Proklamasi.
Kini giliran kita menulis bab berikutnya.
Bukan dengan senjata seperti para pejuang dahulu.
Tetapi dengan ilmu, iman, akhlak, kerja keras, keberanian, teknologi, ekonomi dan persatuan.
Untuk anak cucu kita.
Untuk tanah air kita.
Untuk Nusantara.
Untuk Indonesia.
Jangan terlena oleh kemerdekaan.
Jadilah generasi yang menjaganya.
Jangan hanya menikmati Indonesia.
Jadilah generasi yang membangunnya.
Jangan hanya mengibarkan merah putih.
Hidupkan merah putih di dalam dada.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka pikirannya.
Merdeka jiwanya.
Merdeka budayanya.
Merdeka ekonominya.
Berdaulat bangsanya.
Berwibawa Nusantaranya.
Dengan iman dan ilmu, kita bangun Nusantara mulia.(*)
