Positifitas sebagai Warga Masyarakat dalam Bernegara
Karawang : Di tengah berbagai problematika bangsa, menjadi warga negara yang baik bukan berarti menutup mata terhadap persoalan. Justru sebaliknya, kecintaan kepada bangsa harus membuat kita mampu melihat masalah dengan jernih, menyampaikan kritik dengan bijaksana, sekaligus tetap menghadirkan solusi.
Bangsa ini tentu tidak sempurna. Ada persoalan ekonomi, pendidikan, politik, hukum, korupsi, ketimpangan sosial, pengangguran, konflik kepentingan, hingga berbagai persoalan moral yang terkadang membuat masyarakat kecewa. Namun, jangan sampai kekecewaan terhadap sebagian persoalan membuat kita kehilangan harapan terhadap masa depan bangsa.
Negara bukan hanya pemerintah. Bangsa bukan hanya pejabat. Indonesia adalah kita semua.
Ketika pemerintah menghadapi persoalan, masyarakat memiliki peran untuk memberikan kritik dan pengawasan. Ketika masyarakat menghadapi persoalan, pemerintah memiliki kewajiban untuk hadir dan memberikan pelayanan. Keduanya bukan musuh, melainkan bagian dari satu ekosistem kehidupan bernegara.
Karena itu, sikap positif seorang warga negara bukanlah sikap “yang penting baik-baik saja”.
Positifitas adalah keberanian untuk mengatakan yang benar, kesediaan memperbaiki yang salah, dan kemauan ikut mengambil bagian dalam penyelesaian masalah.
Allah SWT berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari gedung pemerintahan. Perubahan dapat dimulai dari rumah, sekolah, pesantren, masjid, lingkungan, organisasi, dunia usaha, dan dari diri setiap warga negara.
Jika kita ingin negara yang bersih, maka kita harus mulai membiasakan diri untuk jujur.
Jika kita ingin masyarakat yang disiplin, maka kita harus mulai dari kedisiplinan diri.
Jika kita ingin pemerintah yang amanah, maka masyarakat juga harus belajar menjadi masyarakat yang amanah.
Jika kita ingin pendidikan maju, maka jangan hanya mengkritik sekolah dan pemerintah. Mari ikut membangun budaya belajar.
Jika kita ingin ekonomi masyarakat kuat, mari membeli, menggunakan, dan mengembangkan produk masyarakat sendiri.
Jika kita ingin persatuan tetap kokoh, jangan mudah menyebarkan kebencian hanya karena perbedaan pilihan politik.
Kritik boleh keras, tetapi hati jangan kehilangan cinta kepada bangsa.
Kita boleh berbeda pilihan politik. Kita boleh berbeda pandangan tentang kebijakan pemerintah. Kita boleh menyampaikan kritik, bahkan kritik yang tajam. Tetapi jangan sampai perbedaan politik mengubah saudara sebangsa menjadi musuh.
Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi demokrasi juga membutuhkan kedewasaan, kebebasan membutuhkan tanggung jawab, kekuasaan membutuhkan pengawasan dan masyarakat membutuhkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki kontribusi terhadap masa depan negeri ini.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka jangan selalu bertanya, “Apa yang sudah negara berikan kepada saya?”
Sesekali mari bertanya “Apa yang sudah saya berikan kepada negara?”
Mungkin kita belum mampu membangun jalan.
Tetapi kita bisa tidak membuang sampah sembarangan, mungkin kita belum mampu membuat kebijakan pendidikan tetapi kita bisa mendidik anak-anak kita dengan baik, mungkin kita belum menjadi pejabat tetapi kita bisa menjadi warga yang jujur, mungkin kita belum mampu menyelesaikan persoalan ekonomi bangsa tetapi kita bisa membuka lapangan pekerjaan, membeli produk lokal, membantu tetangga, dan memberdayakan masyarakat, mungkin kita belum mampu mengubah Indonesia dalam satu malam tetapi kita bisa mengubah satu lingkungan menjadi lebih baik.
Jangan menjadi warga negara yang hanya pandai mengeluh tentang keadaan, tetapi tidak pernah bertanya apa yang dapat dilakukan.
Bangsa yang besar bukan dibangun hanya oleh orang-orang yang berada di pusat kekuasaan. Bangsa dibangun oleh jutaan manusia biasa yang setiap hari memilih untuk bekerja dengan jujur, mendidik dengan ikhlas, berdagang dengan amanah, menjaga lingkungan, menghormati hukum, membayar kewajiban, membantu sesama, dan menjaga persaudaraan.
Karena itu, di tengah problematika bangsa, kita membutuhkan masyarakat yang kritis tetapi tidak sinis, berani tetapi tidak beringas, idealis tetapi tetap realistis, religius tetapi tidak mudah menghakimi, serta nasionalis tanpa harus membenci pihak yang berbeda.
Indonesia tidak membutuhkan masyarakat yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja.
Indonesia juga tidak membutuhkan masyarakat yang mengatakan semuanya buruk.
Indonesia membutuhkan warga negara yang mampu melihat masalah, berani menyampaikan kebenaran, dan bersedia menjadi bagian dari solusi.
Mari menjaga optimisme, bukan optimisme yang naif, tetapi optimisme yang bekerja.
Bukan sekadar berharap keadaan berubah, tetapi ikut berusaha mengubah keadaan.
Bukan hanya menunggu pemimpin yang hebat, tetapi membangun masyarakat yang hebat.
Sebab pada akhirnya, masa depan bangsa bukan hanya ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi kekuasaan, tetapi juga oleh kualitas manusia yang mengisi kehidupan bangsa itu sendiri.
Mari tetap mencintai Indonesia, kritisi yang salahk dukung yang benar, perbaiki yang kurang, jaga persatuan dan terus berbuat baik.
Karena mencintai negeri bukan berarti menganggap negeri ini sempurna. Mencintai negeri berarti tetap bersedia memperbaikinya, bahkan ketika banyak hal membuat kita kecewa.
Indonesia membutuhkan kita. Bukan hanya suara kita, tetapi juga akhlak, pikiran, karya, keberanian, dan kontribusi kita.(*)
