Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Uang Lebih Mudah Datang kepada Hati yang Tenang

Karawang : Banyak orang mengejar uang dengan penuh kepanikan. Padahal, sering kali uang justru datang kepada orang yang mampu menjaga ketenangan pikirannya.
Oleh : _KH.Muhammad Endang Suratno Wibowo M.Ed_ ( Pengasuh Pesantren Lestari Alam Qur'ani Indonesia Wibawa Nusantara )
Penulis : KH.Muhammad Endang Suratno Wibowo M.Ed_ ( Pengasuh Pesantren Lestari Alam Qur'ani Indonesia Wibawa Nusantara )

Bukan karena ketenangan itu memiliki kekuatan magis, melainkan karena hati yang tenang melahirkan pikiran yang jernih. Pikiran yang jernih melahirkan keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat melahirkan kepercayaan. Dan kepercayaan adalah mata uang paling berharga dalam dunia usaha.

Sebaliknya, ketika seseorang dikuasai stres, rasa takut, dan kepanikan, ia cenderung mengambil keputusan yang impulsif, mudah tertipu, terburu-buru menjual aset, atau mengejar keuntungan sesaat tanpa perhitungan. Akibatnya, rezeki yang sudah dekat pun sering kali menjauh.

Morgan Housel dalam The Psychology of Money menjelaskan bahwa keberhasilan finansial lebih banyak ditentukan oleh perilaku (behavior) daripada kecerdasan. Orang yang mampu mengendalikan emosi biasanya akan mengambil keputusan keuangan yang lebih baik daripada orang yang sangat pintar tetapi dikuasai kepanikan.

Psikolog Daniel Kahneman dalam Thinking, Fast and Slow juga menjelaskan bahwa saat manusia berada di bawah tekanan, otak lebih sering menggunakan respons cepat yang dipenuhi bias. Karena itu, ketenangan bukan sekadar sikap spiritual, tetapi juga kebutuhan biologis agar mampu berpikir rasional.

Stephen Covey dalam The 7 Habits of Highly Effective People mengingatkan bahwa manusia efektif selalu fokus pada hal yang dapat ia kendalikan, bukan tenggelam dalam kecemasan terhadap hal-hal di luar kendalinya.

Islam telah mengajarkan prinsip ini jauh sebelum ilmu psikologi modern berkembang.

Allah Ta'ala berfirman:

«فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۝ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا»

"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
(QS. Al-Insyirah: 5-6)

Ayat ini bukan hanya janji datangnya kemudahan, tetapi juga mengajarkan agar seorang mukmin tidak kehilangan ketenangan ketika menghadapi kesulitan.

Allah juga berfirman:

«وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ»

"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."
(QS. Ath-Thalaq: 2-3)

Rezeki sering kali datang bukan hanya karena kerja keras, tetapi juga karena ketakwaan yang melahirkan ketenangan dan tawakal.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا»

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang."
(HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Perhatikan, burung tetap terbang mencari makan. Tawakal bukan pasrah tanpa usaha, tetapi usaha yang dilakukan dengan hati yang tenang.

Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:

«في القلب شعث لا يلمه إلا الإقبال على الله»

"Di dalam hati terdapat kegelisahan yang tidak akan dapat disatukan kecuali dengan kembali kepada Allah."

Sedangkan Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa tamak dan cinta dunia yang berlebihan akan melahirkan kegelisahan yang tidak pernah selesai. Hati yang dipenuhi qana'ah justru lebih mampu melihat nikmat dan peluang yang Allah bukakan.

Karena itu, jangan bekerja dalam keadaan panik. Jangan berbisnis dengan rasa takut. Jangan mengambil keputusan saat hati dipenuhi emosi.

Tenangkan hati dengan dzikir.
Luruskan niat.
Perbaiki ikhtiar.
Perbanyak silaturahmi.
Jaga amanah.
Bangun kepercayaan.

Sebab rezeki bukan hanya soal seberapa keras kita berlari, tetapi juga seberapa lapang hati kita menerima takdir Allah.

Uang mengejar nilai. Nilai lahir dari keputusan yang baik. Keputusan yang baik lahir dari pikiran yang jernih. Dan pikiran yang jernih tumbuh dari hati yang tenang bersama Allah.(*)

Hide Ads Show Ads