Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Harumkan Indonesia di Forum UNESCO, Veldesen Yaputra Raih Runner-Up Kompetisi Video Internasional

Kalbar : Pemuda asal Pontianak, Kalimantan Barat, Veldesen Yaputra, berhasil mengukir prestasi membanggakan di kancah internasional. Veldesen meraih Juara II dalam kompetisi video program UNESCO x vivo yang diselenggarakan di Cagar Biosfer Tuscan-Emilian Apennine, Italia.
Harumkan Indonesia di Forum UNESCO, Veldesen Yaputra Raih Runner-Up Kompetisi Video Internasional

Penghargaan bergengsi tersebut diraih pada 10 September 2026. Veldesen sukses menyisihkan kompetisi ketat dari 15 peserta yang berasal dari 13 negara dalam mengeksplorasi hubungan antara manusia, kebudayaan lokal, aktivitas ekonomi, hingga dampaknya terhadap perubahan lingkungan.

Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, I.G.A.K. Satrya Wibawa, memberikan apresiasi tinggi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Veldesen membuktikan kapasitas generasi muda Indonesia dalam membawa sudut pandang nasional ke panggung dunia.

“Prestasi Veldesen bukan hanya soal meraih penghargaan, tetapi juga tentang bagaimana anak muda Indonesia mampu membawa pengalaman, pengetahuan, dan perspektif kita ke dalam percakapan global mengenai keberlanjutan,” ujar Satrya dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/9/2026).

Satrya menegaskan bahwa dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, kontribusi serta keterlibatan aktif generasi muda di tingkat internasional menjadi hal yang sangat krusial.

Angkat Isu Kerentanan Alam Lewat Pendekatan Lintas Budaya
Veldesen, yang berlatar belakang pendidikan Environmental Design dari Tsinghua University, China, memfokuskan karyanya pada arsitektur berkelanjutan dan green building. Dalam penyusunan video berbasis riset lapangan ini, ia melakukan interaksi langsung selama empat hari dengan warga lokal, produsen minyak zaitun, hingga peneliti lingkungan di Italia.

Melalui percakapan tersebut, Veldesen menyaksikan langsung bagaimana para petani mulai kesulitan menghadapi perubahan hasil pertanian dan siklus pertumbuhan tanaman akibat cuaca ekstrem.

Pengalaman paling berkesan baginya terjadi saat mengunjungi Cagar Biosfer Tuscan-Emilian Apennine, di mana ia melihat pohon-pohon yang mengering akibat dampak perubahan iklim global.

“Dunia sekarang sangat rapuh. Tanpa manusia menyentuh pun, alam bisa berubah. Perubahan iklim dapat mengubah ekosistem bahkan ketika tekanan langsung dari manusia tidak terlihat,” tutur Veldesen.

Soroti Peran Pemuda di Ajang Internasional
Menariknya, meski latar belakang utamanya bukan di bidang videografi, Veldesen mampu menghasilkan video berkedalaman naratif tinggi hanya dengan menggunakan telepon pintar. Ia memadukan tiga perspektif geografis dan akademik yang pernah dialaminya, yakni Indonesia, China, dan Italia.

Melalui pencapaian ini, Veldesen berharap dapat menginspirasi lebih banyak pemuda Indonesia untuk berani melakukan riset lingkungan, mempelajari bentuk adaptasi lokal, serta aktif mengambil peran di forum internasional seperti PBB dan UNESCO.

“Kita membawa nama Indonesia. Di mana pun kita bereksperimen dan belajar, kita tetap warga negara Indonesia. Apa yang kita hasilkan juga membawa nama Indonesia,” pungkasnya.(*)

Hide Ads Show Ads