Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Perempuan Adalah " Pemilik Dunia" , Dari Rahimnya Membawa Peradaban, Kehormatan dan Perdamaian

Karawang : Ada sebuah kekuatan yang sering tidak terlihat oleh mata, tetapi pengaruhnya dapat menentukan arah sejarah. Bukan senjata, bukan istana, bukan uang, bukan pula jabatan. Itu adalah Perempuan.
Oleh : Muhammad ESW

Kalimat “Perempuan adalah pemilik dunia” tentu tidak boleh dipahami secara harfiah bahwa perempuan adalah penguasa mutlak dunia. Dalam perspektif tauhid, pemilik dan penguasa mutlak alam semesta hanyalah Allah سبحانه وتعالى.

Tetapi kalimat itu dapat dibaca sebagai sebuah tesis peradaban bahwa perempuan memiliki salah satu pengaruh paling fundamental terhadap lahirnya manusia, pembentukan karakter, pendidikan generasi, kehidupan keluarga, transmisi nilai, bahkan arah kebudayaan.

Dari rahim seorang perempuan lahir manusia. Dari pangkuan seorang ibu, manusia pertama kali mengenal kasih sayang. Dari rumah, manusia pertama kali belajar bahasa, adab, kejujuran, keberanian, rasa malu, kasih sayang dan cara memandang dunia.

Sebelum seorang anak mengenal sekolah, ia mengenal keluarganya. Sebelum mengenal buku, ia membaca perilaku orang tuanya. Sebelum memahami teori moral, ia melihat bagaimana ibunya dan ayahnya memperlakukan manusia.

Maka jika ingin mengetahui masa depan sebuah bangsa, jangan hanya lihat gedung parlemen, istana, universitas atau pusat ekonominya, lihat keluarganya.

Dan jika ingin mengetahui bagaimana kualitas generasi berikutnya, lihat bagaimana bangsa tersebut mendidik perempuan dan laki-lakinya.
Sebab di sanalah masa depan sedang diproduksi setiap hari.

Allah adalah Sumber Segala Sumber, dalam Islam kita harus meletakkan satu fondasi terlebih dahulu.

Perempuan bukan sumber segala sumber. Allah-lah sumber segala sesuatu.

Al-Qur'an berfirman:

اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ

“Allah adalah Pencipta segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar: 62)

Allah kemudian menjadikan manusia berkembang melalui pasangan:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً

“Allah menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri dan dari pasangan-pasanganmu itu Dia menjadikan anak-anak dan cucu-cucu.”
(QS. An-Nahl: 72)

Maka perempuan bukan Tuhan, bukan sumber segala sesuatu, tetapi Allah memberikan kepadanya peran strategis dalam keberlangsungan kehidupan manusia. Dan strategi terbesar sebuah peradaban bukan hanya bagaimana ia menghasilkan teknologi, tapi bagaimana ia menghasilkan manusia berkualitas.

Islam Memuliakan Perempuan Sekaligus Memberinya Amanah, Al-Qur'an tidak menjadikan perempuan sebagai manusia kelas dua dalam urusan nilai spiritual. Allah menyebut laki-laki dan perempuan secara berpasangan:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ...

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin...”
Kemudian Allah menjanjikan kepada mereka ampunan dan pahala yang besar.
(QS. Al-Ahzab: 35)

Ukuran kemuliaan bukan jenis kelamin.
Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Namun Islam juga memberikan kepada perempuan sebuah amanah sosial yang sangat besar.
Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Kemudian Nabi ﷺ bersabda:

وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ

“Perempuan adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anaknya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kata رَاعِيَةٌ mengandung makna penjaga, pengelola, pengemban amanah. Jadi perempuan bukan sekadar objek yang harus dijaga, Ia juga penjaga. Bukan hanya yang dididik, Ia juga pendidik. Bukan hanya yang menerima nilai, Ia juga pewaris dan transmitter nilai kepada generasi berikutnya.

Ada satu hadis yang sangat terkenal. Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

“Siapakah manusia yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku?”

Nabi menjawab:

أُمُّكَ

“Ibumu.” Sahabat bertanya lagi “Siapa lagi?”
Nabi menjawab:

أُمُّكَ

“Ibumu.” Ditanya lagi “Siapa lagi?”
Beliau menjawab:

أُمُّكَ

“Ibumu.” Kemudian Rasul melanjutkan

ثُمَّ أَبُوكَ

“Kemudian ayahmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa ibu disebut tiga kali? Karena ada dimensi pengorbanan yang tidak bisa dihapus dari pengalaman menjadi seorang ibu yakni mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik dan mendampingi pertumbuhan anak.
Maka penghormatan terhadap perempuan dalam Islam bukan sekadar romantisme. Ia terkait dengan amanah generasi.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulum al-Din memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak dan pembentukan akhlak sejak dini. Anak dipandang sebagai amanah yang harus dibentuk melalui pembiasaan, pengawasan dan keteladanan.
Inilah inti pendidikan yang sering dilupakan.

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan kepadanya, tetapi dari apa yang dilihatnya setiap hari. Ibu yang menjaga shalat sedang mengajarkan shalat. Ibu yang jujur sedang mengajarkan kejujuran. Ibu yang mampu meminta maaf sedang mengajarkan kerendahan hati. Ibu yang mampu memaafkan sedang mengajarkan kelapangan jiwa.

Tetapi sebaliknya, rumah juga bisa menjadi laboratorium pertama tempat seorang anak belajar kebencian, kebohongan, kekerasan, manipulasi dan keserakahan. Karena itu, rumah adalah universitas pertama manusia. Dan orang tua adalah dosen pertamanya.

Menariknya, gagasan tentang kuatnya pengaruh perempuan terhadap keluarga, kehormatan dan politik tidak hanya muncul dalam tradisi Islam. Literatur peradaban dunia memberikan banyak gambaran tentang hal tersebut.

Salah satu yang paling dramatis adalah Mahabharata, epos besar India yang secara tradisional dikaitkan dengan Vyasa. Kisah Pandawa dan Kurawa bukanlah dalil agama Islam dan bukan pula catatan sejarah dalam pengertian historiografi modern. Ia adalah karya epik yang kaya dengan simbol, konflik moral, politik dan refleksi tentang manusia. Di dalamnya terdapat seorang perempuan bernama Drupadi.

Drupadi adalah putri Raja Drupada, Kisahnya menjadi salah satu episode paling terkenal dalam Mahabharata.

Pandawa kalah dalam permainan dadu, Drupadi kemudian dibawa ke hadapan majelis kerajaan dan mengalami penghinaan. Di sinilah sesuatu yang sangat penting terjadi, Drupadi tidak sekadar menangis. Ia mempertanyakan legalitas dan moralitas tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.
Ia mempertanyakan, Bagaimana seseorang dapat mempertaruhkan orang lain ketika dirinya sendiri telah kehilangan kebebasan?
Pertanyaan itu menjadi salah satu momen moral paling tajam dalam epos tersebut.

Penghinaan terhadap Drupadi kemudian menjadi salah satu titik yang memperbesar kebencian antara Pandawa dan Kurawa, terutama setelah sumpah Bima untuk membalas penghinaan tersebut.

Akhirnya konflik berkembang menuju Perang Kurukshetra. Namun mengatakan “Perang Pandawa-Kurawa terjadi karena perempuan.”
adalah kesimpulan yang terlalu dangkal. Drupadi bukan akar tunggal konflik, akar konflik jauh lebih kompleks darimulai ambisi Duryodhana, intrik Shakuni, permainan dadu, perebutan kekuasaan,
kecemburuan, kegagalan para tetua menghentikan ketidakadilan serta ketidakmampuan para tokoh mengendalikan ego dan hawa nafsu.

Dengan demikian, Drupadi lebih tepat dipahami sebagai titik api, bukan satu-satunya bahan bakar.
Maka di sinilah pelajaran peradabannya menjadi sangat dalam:
«Ketika kehormatan perempuan dihancurkan oleh kekuasaan, luka pribadi dapat berubah menjadi konflik keluarga, konflik keluarga menjadi konflik politik, dan konflik politik dapat berubah menjadi perang.»

Drupadi menunjukkan bagaimana perempuan dapat menjadi simbol kehormatan yang memengaruhi arah sejarah. Tetapi kisah tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa tragedi tidak pernah lahir dari satu manusia saja. Ia lahir dari jaringan kegagalan moral banyak manusia.

Mahabharata juga menghadirkan sosok Gandhari, ibu dari seratus Kurawa. Gandhari mencintai anak-anaknya, Tetapi anak-anaknya terseret dalam ambisi dan konflik. Kisah Gandhari memberikan pelajaran lain bahwa Cinta kepada anak harus disertai keberanian moral untuk mengoreksi anak. Sebab mencintai anak bukan berarti selalu membenarkan anak.

Seorang ibu yang benar-benar mencintai anaknya harus mampu berkata “Ini salah”, “Jangan”, “Berhenti”, “Jangan zalimi orang lain”, “Jangan mengejar kekuasaan dengan cara yang merusak”
Karena terkadang kehancuran generasi bukan karena kurangnya cinta orang tua. Tetapi karena cinta tidak disertai ketegasan moral.

Di sinilah Al-Qur'an memberikan perspektif yang sangat menarik. Dalam sebagian tradisi keagamaan dan budaya, perempuan pernah dibebani sebagai pihak yang dianggap paling bertanggung jawab atas kejatuhan manusia melalui kisah Hawa.

Tetapi Al-Qur'an tidak membangun narasi sederhana seperti itu.
Allah berfirman tentang Adam dan pasangannya:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.’” (QS. Al-A'raf: 23)

Yang menarik adalah penggunaan bentuk keduanya, Keduanya melakukan kesalahan, Keduanya memohon ampun, Keduanya berhadapan dengan konsekuensi. Dengan demikian, Islam tidak membangun konsep bahwa perempuan secara inheren adalah sumber dosa atau kehancuran manusia. Yang menjadi persoalan adalah manusia dan pilihannya.

Jauh sebelum dunia modern berbicara tentang gender dan kesetaraan, filsafat Yunani telah membicarakan hubungan antara keluarga dan negara.

Plato dalam Republic memandang pendidikan sebagai fondasi pembentukan karakter warga negara dan stabilitas polis. Ia memahami bahwa negara tidak bisa hanya membangun institusi.

Negara harus membentuk manusia. Dalam Republic, Plato bahkan membahas kemungkinan perempuan dari kelas penjaga mendapatkan pendidikan dan menjalankan tugas-tugas tertentu bersama laki-laki.

Sementara Aristoteles dalam Politics memberikan perhatian besar terhadap oikos, rumah tangga, sebagai salah satu unit dasar kehidupan sosial yang kemudian berhubungan dengan polis.

Meskipun pandangan Aristoteles tentang perempuan sangat dipengaruhi struktur hierarkis masyarakat Yunani dan tidak dapat disamakan dengan konsep kesetaraan modern, terdapat satu gagasan yang tetap penting bahwa Negara tidak lahir dari ruang kosong. Negara bertumbuh dari manusia, keluarga dan komunitas.
Karena itu, siapa yang membentuk manusia pada tahap paling awal memiliki pengaruh terhadap masa depan negara.

Dalam sejarah Romawi, konsep materfamilias menunjukkan kedudukan penting perempuan dalam rumah tangga elite Romawi.

Perempuan Romawi memang hidup dalam sistem hukum dan sosial yang berbeda dengan konsep kesetaraan modern. Namun keluarga, garis keturunan, pendidikan anak dan kehormatan keluarga menjadi unsur penting dalam struktur masyarakat Romawi.

Tokoh seperti Cornelia, ibu dari Gracchi, kemudian menjadi figur terkenal dalam literatur Romawi sebagai gambaran perempuan yang memiliki pengaruh besar dalam pendidikan anak-anaknya.

Perempuan mungkin tidak selalu duduk di kursi kekuasaan formal, tetapi pengaruhnya terhadap manusia yang kelak duduk di kursi kekuasaan dapat sangat besar.

Memasuki era modern, John Stuart Mill melalui The Subjection of Women (1869) mengkritik subordinasi hukum dan sosial terhadap perempuan.

Bagi Mill, pembatasan terhadap perempuan bukan hanya persoalan keadilan individual, tetapi juga persoalan hilangnya potensi manusia bagi masyarakat.

Gagasan ini penting untuk konteks modern.

Sebuah bangsa tidak boleh menyia-nyiakan potensi manusianya. Perempuan harus mendapatkan pendidikan. Harus memiliki kesempatan mengembangkan ilmu. Harus dihormati martabatnya. Harus diberi ruang untuk berkontribusi.

Namun dalam perspektif Islam, pemberdayaan manusia tidak berhenti pada kebebasan. Ia harus berjalan bersama amanah, akhlak dan takwa.

Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya membutuhkan kehidupan sosial. Manusia tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendirian. Dari kehidupan bersama muncul pembagian kerja, solidaritas, kekuasaan dan akhirnya peradaban.

Salah satu konsep terkenalnya adalah 'ashabiyyah, solidaritas kelompok yang menjadi salah satu kekuatan penting dalam lahir dan bertahannya kekuasaan. Jika gagasan ini kita tarik ke level paling dasar, kita menemukan bahwa manusia pertama-tama dibentuk dalam kelompok sosial paling kecil yaitu keluarga.

Keluarga adalah tempat manusia belajar siapa dirinya, siapa yang ia cintai, apa yang dianggap benar, apa yang dianggap salah, bagaimana memperlakukan orang lain dan untuk apa ia hidup.

Maka kualitas keluarga merupakan salah satu bagian dari bahan baku kualitas masyarakat dan kualitas masyarakat pada akhirnya ikut menentukan kualitas peradaban.

Maka, Apakah Wanita Benar-Benar Pemilik Dunia?
Jawabannya harus dibuat lebih presisi.
Tidak dalam arti kepemilikan mutlak.
Allah adalah pemilik mutlak dunia.
Tetapi dalam arti pengaruh terhadap pembentukan manusia, perempuan memiliki posisi yang luar biasa strategis.

Ia dapat menjadi sumber kehidupan, sumber pendidikan, sumber kasih sayang, sumber keteguhan, sumber inspirasi, sumber karakter dan dalam keadaan tertentu dapat pula menjadi bagian dari sumber konflik ketika nilai, relasi dan kekuasaan mengalami kerusakan.

Tetapi laki-laki pun demikian. Laki-laki dapat menjadi sumber perlindungan atau kekerasan. Sumber nafkah atau korupsi.
Sumber keteladanan atau tirani.
Karena itu persoalannya bukan “Siapa yang lebih kuat, laki-laki atau perempuan?”

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah
“Nilai apa yang mengendalikan kekuatan manusia?”

Jika kekuatan perempuan dikendalikan iman, ilmu dan akhlak, ia dapat menjadi rahmat.
Jika kekuatan laki-laki dikendalikan iman, ilmu dan akhlak, ia dapat menjadi rahmat.
Tetapi jika keduanya dikendalikan hawa nafsu, ego, ambisi dan keserakahan, maka keduanya dapat menjadi sumber kehancuran.

Perempuan Bukan Musuh Laki-Laki, Tetapi Mitra Peradaban, Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenteraman kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21)

Kuncinya adalah:

مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

kasih sayang dan rahmat.

Islam tidak mengajarkan perang gender.
Islam mengajarkan sinergi amanah.
Laki-laki dan perempuan bukan dua kubu yang harus saling menaklukkan. Mereka adalah dua manusia yang sama-sama memiliki amanah kepada Allah. Karena itu, membangun perempuan bukan berarti melemahkan laki-laki.

Sebaliknya, perempuan yang kuat dalam iman dan ilmu akan memperkuat keluarga. Laki-laki yang kuat dalam iman dan tanggung jawab akan menjaga keluarga. Keluarga yang kuat akan memperkuat masyarakat. Masyarakat yang kuat akan memperkuat bangsa. Dan bangsa yang memiliki iman, ilmu, karakter, solidaritas dan visi akan memiliki fondasi untuk membangun peradaban.

Pertanyaan paling penting bukan “Apakah dunia milik laki-laki?” atau “Apakah dunia milik perempuan?” Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah siapa yang sedang membentuk manusia yang akan mengisi dunia? Karena masa depan bangsa mungkin tidak sedang lahir di gedung parlemen. Ia mungkin sedang lahir di sebuah rumah sederhana. Seorang ibu sedang mengajarkan anaknya membaca Al-Qur'an. Seorang ayah sedang mengajarkan keberanian.
Seorang anak sedang belajar membedakan benar dan salah. Dan tanpa kamera, tanpa berita, tanpa tepuk tangan, sebuah generasi sedang dibentuk.

Dari sanalah sejarah bermula, Drupadi mengingatkan kita bahwa penghinaan terhadap perempuan dapat menjadi bara konflik.

Gandhari mengingatkan bahwa cinta tanpa keberanian moral dapat gagal menyelamatkan generasi.

Plato mengingatkan pentingnya pendidikan dalam membentuk negara.

Aristoteles mengingatkan pentingnya rumah tangga sebagai bagian dari struktur kehidupan sosial.

John Stuart Mill mengingatkan bahwa potensi perempuan tidak boleh disia-siakan.

Ibnu Khaldun mengingatkan bahwa manusia, solidaritas dan struktur sosial merupakan fondasi lahirnya peradaban.

Al-Ghazali mengingatkan pentingnya pembentukan akhlak sejak dini.

Dan Al-Qur'an mengembalikan semuanya kepada satu pusat yaitu Allah Jalla wa'alaa.

Maka kalimat terakhirnya bukan “Wanita adalah pemilik dunia.” Tetapi,
“WANITA MEMEGANG SALAH SATU KUNCI DUNIA, DARI RAHIMNYA LAHIR MANUSIA, DARI PANGKUANNYA LAHIR KARAKTER, DARI RUMAHNYA LAHIR GENERASI, DAN DARI GENERASI ITULAH PERADABAN MENENTUKAN NASIBNYA.”

Maka jika kita ingin membangun bangsa, didik perempuan.

Jika ingin menyelamatkan generasi, muliakan ibu/perempuan.

Jika ingin membangun peradaban, kuatkan keluarga.

Dan jika ingin semua kekuatan itu menjadi rahmat,

kembalikan laki-laki dan perempuan kepada iman, ilmu, akhlak dan amanah kepada Allah.

Peradaban tidak selalu dimulai dari istana, kadang ia dimulai dari rahim seorang perempuan, tumbuh di pangkuan seorang ibu, dibentuk dalam sebuah rumah, kemudian suatu hari berdiri menjadi manusia yang mengubah sejarah.(*)

Hide Ads Show Ads