Dedi Mulyadi Angkat Tradisi Dagang Warga Tasikmalaya-Garut Jadi Pelajaran Ekonomi: Kuncinya Tekun dan Jujur
BANDUNG,—Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, menyoroti tradisi berdagang masyarakat Tasikmalaya dan Garut sebagai contoh nyata perkembangan ekonomi yang bertumpu pada ketekunan, kejujuran, dan proses usaha yang bertahap.
Hal itu disampaikan Kang Dedi Mulyadi (KDM) dalam sambutannya di lingkungan keluarga besar Persatuan Islam (Persis).
Dalam pidatonya, Dedi mengenang para pedagang asal Tasikmalaya dan Garut yang dahulu menjajakan barang kebutuhan sehari-hari dengan cara berkeliling dari kampung ke kampung. Dengan kegigihan, usaha sederhana tersebut kemudian berkembang pesat — mulai dari hanya menggunakan kendaraan sederhana, hingga akhirnya mampu memiliki toko dan tempat usaha sendiri.
Menurut Dedi, ada satu nilai utama yang menopang perkembangan usaha tersebut, yaitu komitmen untuk memenuhi kewajiban pembayaran. Ia menilai, kepercayaan dalam transaksi menjadi modal paling penting bagi keberlangsungan perdagangan.
“Kepercayaan itu modal utama. Kalau janji bayar, harus bayar,” ujar KDM dalam sambutannya.
Ia juga menyinggung realita di lapangan, bahwa sebagian pedagang menghadapi kesulitan karena barang yang dijual secara kredit tidak dibayar oleh pembeli. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat mengganggu keberlangsungan usaha kecil dan bahkan bisa membuka peluang bagi model usaha lain yang menggunakan sistem penagihan lebih keras.
Dedi menilai, pengalaman panjang para pedagang Tasikmalaya-Garut ini menunjukkan bahwa budaya usaha, kejujuran, dan tanggung jawab adalah fondasi yang perlu terus dipelihara dalam kehidupan ekonomi masyarakat Jawa Barat.
Ia berharap, generasi muda bisa belajar dari etos dagang tersebut — tidak instan, tapi bertumbuh dari proses, jujur, dan bertanggung jawab.(*).
