Biarlah Sisa Umurku untuk Cucuku, Jangan Biarkan Mereka Merasakan Susahku
Karawang : Pernahkah kau lihat seorang nenek menatap cucunya?
Tatapannya berbeda.
Waktu ia jadi ibu muda dulu, tangannya keras mendidik anaknya. Dicubit kalau nakal, dimarahi kalau malas. Karena ia ingin anaknya kuat, tidak cengeng menghadapi dunia.
Tapi ketika anak itu sudah punya anak — hatinya yang keras itu luluh jadi air.
_"Anak itu tanggung jawabku, tapi cucu itu adalah sisa umurku,"_ bisik seorang nenek di saung Campaka sambil menggendong cucu yang rewel.
Seorang nenek... kenapa cintanya lebih besar ke cucu dibanding ke anak mantunya?
Bukan karena ia tidak sayang anak mantunya.
Tapi karena ia KHAWATIR.
Khawatir yang datang bersama uban dan keriput.
Ia tahu, napasnya tidak lama lagi. Lututnya sudah bergetar kalau berdiri lama. Matanya sudah rabun walau sudah pakai kacamata putihnya itu. Ia tahu, ia tidak akan bisa menjaga mereka selamanya.
Maka sisa tenaga yang ada, ia tumpahkan semua untuk cucu.
Ia pernah susah. Pernah mengikat perut karena tidak ada beras. Pernah menangis diam-diam karena dihina orang. Pernah tidur beralaskan tikar sobek demi anaknya bisa sekolah.
Dan ia bersumpah dalam hati:
_"Biar Nenek saja yang merasakan pahitnya. Jangan cucu Nenek. Kamu harus bahagia melebihi Nenek. Harus pinter, harus sukses, jangan kayak Nenek..."
Kadang ia cerewet. Kadang ia ikut campur urusan rumah tangga anak mantunya. Kadang ia marah besar kalau cucunya dimarahi.
Anak mantu tersinggung. Dianggap mertua bawel.
Padahal bukan.
Di dalam dada tua renta itu, setiap habis sholat Maghrib, ada doa yang sama yang ia ulang sambil menahan sesak:
"Ya Allah, panjangkan umurku sedikit lagi... biar aku bisa lihat cucuku besar. Ya Allah, biarlah mereka bahagia melebihi apa yang pernah aku rasakan. Biarlah mereka tidak menangis seperti aku dulu menangis... Biarlah sisa umurku untuk cucuku."
LALU KAMU, WAHAI ANAK... DIMANA KAMU SAAT IBUMU BERDOA ITU?
Kamu yang sekarang sudah sukses, sudah punya rumah bagus, punya mobil, punya jabatan...
Kapan terakhir kamu telpon ibumu?
Kapan terakhir kamu pulang, cium tangannya yang sudah keriput dan berurat itu?
Kamu sibuk. Alasanmu selalu sibuk.
Sibuk kerja. Sibuk urus anak istri. Sibuk arisan. Sibuk main HP.
Tapi ibumu? Ia tidak pernah sibuk untuk mendoakanmu.
Bahkan saat kau membentaknya karena ia salah pencet HP. Bahkan saat kau tidak pulang lebaran dengan alasan tiket mahal. Bahkan saat kau biarkan ia tinggal sendiri di kampung dengan alasan "Nenek kan betah di kampung".
Tahukah kamu?
Nenek itu tidak butuh uangmu yang banyak.
Ia hanya butuh kamu duduk di sampingnya, mendengarkan cerita yang itu-itu saja ia ulang. Ia hanya butuh kamu bilang "Mak, makan yuk bareng".
Sebelum nanti, yang tersisa hanya foto di dinding dan nisan yang tidak lagi bisa menjawab panggilanmu.
Anak durhaka itu bukan hanya yang memukul orang tuanya.
Anak durhaka itu adalah yang membuat ibunya menangis diam-diam di sepertiga malam karena rindu, tapi anaknya tidak pernah datang.
Anak durhaka itu adalah yang lebih percaya kata istrinya daripada air mata ibunya.
Jika ibumu, nenek dari anak-anakmu masih ada hari ini — PULANGLAH.
Peluk dia. Minta maaf. Cium kakinya.
Karena kasih nenek ke cucumu itu adalah kasih yang ia pinjam dari rasa bersalahnya — karena dulu ia merasa kurang memberi kasih ke kamu.
Jangan sampai kamu menyesal, saat yang kamu peluk nanti hanya batu nisan dingin yang tidak bisa lagi memelukmu balik.
Bagikan tulisan ini jika kamu masih sayang IBU. Semoga yang masih punya ibu, dipanjangkan umur ibunya. Yang ibunya sudah tiada, ditempatkan di Surga-Nya. Aamiin.(*)
