Dedi Mulyadi Soroti Pentingnya Padukan Pendidikan Keagamaan dan Kearifan Lokal Sunda
Bandung : Gubernur Jawa Barat terpilih, Dedi Mulyadi, menyoroti pentingnya memadukan pendidikan keagamaan dengan pemahaman terhadap tradisi dan kearifan lokal Sunda dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk di lingkungan keluarga besar Persatuan Islam (Persis).
Hal tersebut disampaikan Dedi Mulyadi dalam sambutannya di hadapan keluarga besar Persis. Ia menyebut Persis sebagai salah satu organisasi Islam yang tumbuh dan berkembang di tanah Sunda, sehingga tidak terlepas dari nilai-nilai budaya setempat.
Ia juga menyinggung eratnya hubungan masyarakat Sunda dengan berbagai tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun dan masih hidup hingga kini.
Dedi mencontohkan sejumlah nilai dalam tradisi Sunda Wiwitan, di antaranya penghormatan terhadap alam, kesederhanaan dalam memperlakukan orang yang telah meninggal dunia, serta pandangan bahwa hubungan spiritual merupakan urusan pribadi yang tidak selalu harus diungkapkan secara lisan.
"Tradisi Sunda itu mengajarkan kita menghormati alam, hidup sederhana, dan spiritualitas itu urusan pribadi yang tidak perlu selalu diumbar," ujar Dedi dalam sambutannya.
Ia juga menyampaikan pandangannya bahwa keyakinan seseorang dapat tercermin dalam dua ranah kehidupan.
Pertama, kehidupan sosial yang diwujudkan melalui perbuatan baik, kepedulian, dan hubungan harmonis dengan sesama. Kedua, kehidupan pribadi yang berkaitan dengan keyakinan dan pelaksanaan ibadah.
Menurut Dedi, pemahaman terhadap tradisi dan kearifan lokal dapat menjadi bahan refleksi untuk memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, serta keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, pengenalan terhadap budaya lokal dapat menjadi bagian dari upaya memperkaya pemahaman sosial dan budaya, tanpa mengabaikan prinsip serta keyakinan keagamaan yang dianut masing-masing individu.
Pandangan tersebut dinilai sejalan dengan upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk terus merawat kebudayaan Sunda sebagai identitas, sembari memperkuat pendidikan karakter berbasis agama dan budaya lokal di berbagai lini kehidupan masyarakat.(*)
