Eskalasi Gaza dan Yaman Meningkat, Qatar Sebut Israel Tak Punya Mitra Perdamaian
Gaza : Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah serangan udara Israel menghantam sebuah apartemen di Gaza pada Selasa, 20 Oktober 2026 dini hari waktu setempat, menewaskan dua orang warga sipil dan melukai beberapa lainnya.
Berdasarkan keterangan resmi Rumah Sakit Shifa yang menerima jenazah korban, dua korban tewas terkonfirmasi sebagai pasangan suami istri.
Pihak militer Israel mengonfirmasi operasi serangan tersebut dengan menyatakan bahwa target serangan udara itu adalah seorang milisi kelompok Hamas. Insiden ini menambah panjang deretan korban jiwa sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai tahun lalu, di mana otoritas kesehatan setempat mencatat lebih dari 1.500 warga Palestina di Gaza tewas akibat operasi militer rutin.
Otoritas terkait menegaskan bahwa hampir separuh dari total korban tewas mencakup kelompok perempuan dan anak-anak.
*Serangan Mematikan Houthi di Yaman Selatan*
Di wilayah selatan Yaman, situasi keamanan dilaporkan kian memburuk pascaserangan rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi Houthi yang disokong Iran. Target serangan menyasar sebuah pusat pelatihan militer pemerintah di wilayah al-Alam, Provinsi Shabwa.
Pejabat militer dan pemerintah Yaman yang berbicara dengan syarat anonim menyatakan bahwa jumlah korban tewas dalam insiden tersebut melonjak tajam menjadi 73 orang, sementara lebih dari 200 rekrut militer lainnya mengalami luka-luka. Pihak milisi Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang dinilai paling mematikan sejak eskalasi pertempuran kembali meluas pada musim panas ini.
Diplomasi Perdamaian Temui Jalan Buntu
Secara terpisah, upaya diplomasi menuju perdamaian kawasan menghadapi jalan buntu. Pemerintah Qatar menilai para pemimpin politik Israel tidak memiliki komitmen nyata untuk mengakhiri konflik melalui jalur negosiasi.
"Sangat disayangkan, saat ini kita tidak memiliki mitra untuk perdamaian di Israel," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, dalam panggung diskusi Global Security Forum di Doha.
Al-Ansari menyoroti dinamika politik menjelang pemilihan umum nasional di Israel dengan menambahkan, "Jika Anda memperhatikan seluruh pernyataan dari partai politik dan kandidat yang bertarung saat ini, tidak ada satu pun dari mereka yang membicarakan perdamaian dengan bangsa Palestina atau stabilitas kawasan."
Netanyahu-Trump Isyaratkan Aksi Bersama ke Iran
Di tengah ketegangan yang memuncak, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merilis rekaman video percakapannya bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam rekaman percakapan telepon tersebut, Netanyahu mengisyaratkan potensi aksi militer baru yang melibatkan kedua negara terhadap Iran.
"Donald, kita memiliki tugas yang harus diselesaikan. Anda telah mengatakannya, dan kita akan menyelesaikannya bersama-sama," tegas Netanyahu. Ia menambahkan bahwa langkah tersebut diambil guna mencegah potensi ancaman Iran yang memiliki senjata nuklir.
Sementara itu, dalam peta geopolitik regional, Pemerintah Turki resmi mengajukan draf ratifikasi perjanjian pertahanan bersama dengan Arab Saudi dan Pakistan ke parlemen. Meskipun detail penuh dokumen perjanjian belum dibuka ke publik, pejabat Ankara menegaskan bahwa kerja sama ini berfokus pada dukungan militer dan tidak melibatkan pengiriman pasukan tempur darat (BN)
