Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Karhutla 20 Ribu Hektare di Riau, Bengkalis & Pelalawan Penyumbang Terbesar 74 Persen

PEKANBARU :  – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Riau resmi berakhir setelah berlangsung hampir dua bulan, sejak 30 Juli hingga 25 September 2026.
Karhutla 20 Ribu Hektare di Riau, Bengkalis & Pelalawan Penyumbang Terbesar 74 Persen
Karhutla 20 Ribu Hektare di Riau, Bengkalis & Pelalawan Penyumbang Terbesar 74 Persen

Selama pelaksanaan operasi, sebanyak 80 ton garam disemai untuk memicu hujan di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Operasi ini merupakan dukungan pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam upaya penanggulangan karhutla di Riau.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Damkar Riau, Jim Gafur, mengatakan hujan yang turun selama periode OMC cukup membantu proses pemadaman, terutama di wilayah yang sebelumnya mengalami kondisi kering.

"Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca ini cukup membantu penanganan karhutla, terutama dengan turunnya hujan di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami kondisi kering. Selama operasi berlangsung, total 80 ton garam telah disemai untuk mendukung upaya pemadaman," ujar Jim Gafur.

Berdasarkan data BPBD Damkar Riau, total luas lahan yang terbakar di Provinsi Riau mencapai 20.597,23 hektare. Kabupaten Bengkalis menjadi wilayah dengan luas kebakaran terbesar, yakni lebih dari 8.569 hektare, disusul Kabupaten Pelalawan dengan lebih dari 6.710 hektare.

Kedua kabupaten tersebut menyumbang sekitar 74 persen dari total luas lahan terbakar di Riau.

Saat ini, BPBD Damkar Riau menyatakan tidak ada titik kebakaran hutan dan lahan yang terpantau. Hujan juga telah turun hampir merata di sejumlah wilayah, meskipun kabut asap masih menyelimuti beberapa daerah.

Meski kondisi karhutla mulai terkendali, BPBD Damkar Riau tetap menyiagakan petugas untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru. Masyarakat juga diimbau tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.(*)