Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Setiap 20 September Masyarakat Bali Kenang Perang Puputan Badung 1906, Kini Jadi Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung Ruang Publik Denpasar

Bali : Setiap tanggal 20 September, masyarakat Bali mengenang Perang Puputan Badung yang terjadi pada 1906. Kini, kawasan tersebut dikenal sebagai Lapangan Puputan Badung dan menjadi ruang publik warga Denpasar.
Setiap 20 September Masyarakat Bali Kenang Perang Puputan Badung 1906, Kini Jadi Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung Ruang Publik Denpasar

Perang Puputan Badung merupakan perlawanan rakyat Badung terhadap pasukan Belanda. Peristiwa tersebut mencapai puncaknya pada 20 September 1906 dan menjadi bagian penting dalam sejarah Bali.

Kini, Lapangan Puputan Badung memiliki nama resmi Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung. Nama tersebut diambil dari Raja Badung yang memimpin perlawanan bersama rakyatnya.

Meski begitu, masyarakat setempat lebih sering menyebutnya sebagai Lapangan Puputan Badung. Area tersebut berlokasi di Jalan Surapati, kawasan pusat kota dan persimpangan titik nol Denpasar.

Sebagai ruang terbuka publik, lapangan ini digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Penelitian dalam Langkau Betang: Jurnal Arsitektur menyebut tempat ini banyak digunakan untuk olahraga, rekreasi, dan aktivitas berdagang.

Aktivitas yang paling banyak dilakukan pengunjung adalah olahraga, terutama jogging. Lapangan juga dapat diakses setiap saat oleh masyarakat untuk beraktivitas lainnya.

Selain berolahraga, warga memanfaatkan kawasan ini untuk bersantai dan berkumpul bersama keluarga. Dinas Pariwisata Kota Denpasar juga mencatat kegiatan seni dan budaya digelar pada hari tertentu.

Pada akhir pekan, kawasan ini menjadi salah satu tempat berkumpul masyarakat Denpasar. Mereka tampak berolahraga, melakukan kegiatan komunitas, rekreasi keluarga, hingga kegiatan usaha kecil.

Ramainya pengunjung juga memberi manfaat bagi pedagang dan pelaku usaha kecil di sekitar lapangan tersebut. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) menyebut aktivitas masyarakat pada akhir pekan ikut menggerakkan ekonomi mikro di kawasan tersebut.

Lapangan Puputan Badung juga memiliki Monumen Puputan Badung. Bangunan ini menjadi pengingat terhadap perjuangan rakyat Badung dalam peristiwa puputan.

Keberadaan monumen membuat kawasan ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi. Namun, ini juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah kepada masyarakat dan generasi muda.

Kawasan ini memperlihatkan perubahan fungsi sebuah tempat dalam kehidupan masyarakat. Dahulu berkaitan dengan peristiwa perjuangan, kini digunakan untuk berbagai kegiatan sehari-hari.(*)