Tak Lagi Otomatis Naik Kelas? Kemendikdasmen Kaji Aturan Baru, Siswa: Kami Setuju!
SLEMAN: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah mengkaji penguatan mekanisme kenaikan kelas agar siswa yang belum memenuhi capaian belajar tidak otomatis naik ke tingkat berikutnya.
Dalam wacana tersebut, kenaikan kelas tidak hanya didasarkan pada penyelesaian tahun ajaran secara administratif, tetapi juga mempertimbangkan penguasaan kompetensi dasar siswa.
Wacana ini mendapat respons positif dari sejumlah pelajar. Mereka menilai, kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan motivasi belajar sekaligus mendorong siswa lebih serius memahami materi pembelajaran.
Siswa kelas IX, Andang Runi Nugraha, mengaku setuju dengan wacana tersebut. Menurutnya, siswa yang belum memahami materi perlu mendapat kesempatan untuk mengulang pembelajaran agar lebih siap di tingkat selanjutnya.
"Kalau saya pribadi sangat setuju, karena siswa yang tidak naik kelas itu kan belum paham dengan pembelajaran dan materi yang ada di grade tersebut. Dengan mengulang, siswa bisa memahami kembali materi yang sudah dijelaskan. Sehingga siswa mampu berusaha dan semangat untuk bisa naik kelas," ujar Andang.
Pandangan serupa disampaikan siswi kelas IX, Sherly Shalza Maulidina. Ia menilai kebijakan dapat menjadi kesempatan memperbaiki prestasi. Namun ia mengingatkan kesulitan belajar tidak selalu karena kurang usaha.
"Menurut saya wacana tidak naik kelas itu dapat menguntungkan siswa untuk berusaha kembali. Kemudian, untuk tidak naik kelas mungkin ada faktor lain seperti keluarga ataupun masalah yang membuat dia tidak fokus dalam pembelajaran," kata Sherly.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Seyegan, Sleman, Tri Woro Setyaningsih, mengatakan pihak sekolah pada dasarnya mendukung wacana tersebut untuk mendorong motivasi dan semangat kompetisi.
Namun ia menegaskan sekolah juga perlu meningkatkan kualitas pembelajaran dan membantu siswa mencapai kompetensi. Keputusan tinggal kelas sebaiknya menjadi pilihan terakhir setelah pendampingan.
"Pada dasarnya sekolah sangat setuju, ini biar anak-anak itu memiliki motivasi belajar yang lebih dan mereka memiliki jiwa kompetisi untuk meraih prestasi. Tetapi harus disikapi dengan usaha dari sekolah untuk mendorong mereka belajar lebih giat, sehingga mungkin itu sebagai solusi akhir di mana anak memang sudah tidak mampu lagi mengikuti pembelajaran dengan baik," ujar Tri Woro.
Pihak sekolah menilai pengkajian lebih mendalam diperlukan sebelum diterapkan, salah satunya dampak kebijakan terhadap kondisi psikologis siswa.(*)
