Ciri Toxic Relationship Menurut Psikiater, Kontrol Berlebihan hingga Konflik Tak Selesai
JAKARTA – Hubungan percintaan tidak sehat atau toxic relationship dapat berdampak buruk terhadap kesehatan mental. Bahkan berpotensi memengaruhi kepercayaan diri hingga menurunkan kualitas hidup.
Psikiater Reinaldo Batara mengatakan cinta seharusnya melibatkan keintiman, gairah, dan komitmen antara dua individu. Hubungan itu juga ditandai perhatian, kedekatan, perlindungan, kasih sayang, dan kepercayaan.
"Ini melibatkan perhatian, kedekatan, perlindungan, ketertarikan, kasih sayang, dan kepercayaan. Namun juga dapat mengakibatkan emosi negatif seperti kecemburuan dan stres," kata Reinaldo dikutip dari kanal YouTube @Halodoc, Sabtu (31/10/2026).
Salah satu tanda hubungan tidak sehat adalah perilaku terlalu mengontrol kehidupan pasangan, misalnya membatasi privasi hingga mencampuri pengambilan keputusan secara berlebihan.
Kurangnya dukungan dan kesulitan mencari solusi saat masalah muncul juga menjadi ciri hubungan tidak sehat. Situasi itu membuat konflik terus berulang tanpa penyelesaian.
Dampak toxic relationship tidak hanya di percintaan, tapi juga memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan.
"Toxic relationship berdampak pada kesehatan mental seperti hilangnya rasa percaya diri, kehilangan semangat hidup, dan rasa bahagia. Dalam kasus yang lebih parah, hubungan toxic dapat mempengaruhi pada berkembangnya atau memburuknya gejala depresi," ujarnya.
Dalam kondisi lebih serius, dampaknya bisa berupa sikap apatis, keinginan menyakiti diri sendiri, hingga kesulitan menjalani aktivitas harian.
Karena itu, Reinaldo menegaskan menjaga kesehatan mental penting dalam menjalani hubungan. Kondisi psikologis yang sehat membantu menghadapi persoalan hubungan secara lebih baik.
Ia juga menegaskan perlu mempertimbangkan bantuan profesional ketika masalah hubungan mulai mengganggu kehidupan. Konseling dan psikoterapi bisa menjadi pilihan untuk mengatasi persoalan dan meningkatkan kualitas hidup.
Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap kemampuan berinteraksi dengan pasangan, membantu meningkatkan konsentrasi dan menghadapi berbagai tantangan hubungan.(*)
