Nasib AS Sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2026 Terancam
Amerika Serikat: Konflik internal dan isu keamanan picu desakan vvaluasi status tuan rumah Amerika Serikat(271/26).
![]() |
| Donald Trump mewakili Amerika Serikat di atas panggung saat pengundian (drawing) Piala Dunia (Foto: TheGuardian/Carlos Barría) |
Status Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026 kini berada di bawah pengawasan ketat.
Meski turnamen ini diprediksi menjadi tonggak sejarah bagi perkembangan sepak bola di Amerika Utara, serangkaian isu domestik, mulai dari kebijakan imigrasi hingga kekerasan federal, memicu perdebatan mengenai kelayakan negara tersebut dalam menyelenggarakan pesta sepak bola terbesar di dunia.
Kehilangan hak tuan rumah akan menjadi mimpi buruk logistik dan politik dalam skala internasional yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, bagi sejumlah pengamat dan aktivis, urgensi mengenai keamanan, keadilan, dan stabilitas sosial kini jauh melampaui kepentingan lapangan hijau.
Tantangan Kemanusiaan dan Keamanan
Laporan terbaru mengenai kekerasan yang melibatkan agen federal di Minneapolis, yang mengakibatkan tewasnya dua warga sipil, Renee Good dan Alex Pretti, telah memperkeruh suasana.
Meskipun otoritas menyebut insiden tersebut sebagai tindakan terhadap ancaman terorisme, bukti video yang beredar luas menunjukkan kontradiksi yang signifikan.
Kondisi ini diperparah dengan data dari lembaga nirlaba The Trace, yang mencatat peningkatan kekerasan bersenjata dalam operasi imigrasi.
Sepanjang tahun 2025, tercatat 32 kematian dalam tahanan Immigration and Customs Enforcement (ICE), sebuah angka yang memicu kekhawatiran global mengenai keselamatan pengunjung mancanegara saat turnamen berlangsung.
Visi Persatuan di Tengah Perpecahan
Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebelumnya menegaskan bahwa sepak bola harus membawa pesan perdamaian.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan tantangan besar bagi visi tersebut. Retorika politik yang tajam dan kebijakan yang dianggap memicu perpecahan dinilai berisiko mengasingkan penggemar internasional.
"Piala Dunia 2026 adalah kesempatan terbaik bagi dunia untuk melihat sejauh mana sepak bola telah memperbaiki Amerika Serikat," ungkap pengamat sepak bola senior Alexander Abnos dalam ulasannya.
Namun, ia menambahkan bahwa harga tiket yang selangit dan tekanan finansial pada kota-kota penyelenggara telah menjauhkan olahraga ini dari akar rumputnya.
Respons Otoritas Sepak Bola
Menanggapi gejolak politik yang menyelimuti persiapan turnamen, Presiden Concacaf, Victor Montagliani, memberikan pandangan pragmatis. Menurutnya, sepak bola memiliki daya tahan yang melampaui dinamika politik sesaat.
"Dengan segala hormat kepada para pemimpin dunia saat ini, sepak bola lebih besar dari mereka. Sepak bola akan bertahan melampaui rezim, pemerintahan, dan slogan-slogan mereka," ujar Montagliani dalam sebuah konferensi tahun lalu.
Di sisi lain, mantan Presiden FIFA Sepp Blatter juga sempat memberikan kritik senada mengenai kesiapan AS dalam menghadapi lonjakan pengunjung asing di tengah ketegangan diplomatik dengan negara tetangga sekaligus mitra tuan rumah, Meksiko dan Kanada.
Ketidakpastian Lokasi Pertandingan
Presiden Donald Trump sebelumnya sempat mengisyaratkan kemungkinan pemindahan lokasi pertandingan jika sebuah kota dianggap tidak aman.
"Kami akan memindahkan acara ke tempat yang lebih dihargai dan aman," tegasnya. Namun, pernyataan tersebut merujuk pada perpindahan antar-kota di dalam wilayah AS.
Kini, pertanyaan besar yang menggantung di markas besar FIFA di Zurich adalah apakah organisasi tersebut akan tetap mempertahankan komitmennya di Amerika Serikat, atau mulai mempertimbangkan opsi darurat demi menjamin keamanan atlet dan jutaan penggemar yang dijadwalkan hadir pada musim panas 2026.(*)

