Berapa Nominal Angpau Imlek? Berikut Aturannya
Jakarta : Tradisi berbagi angpau selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Tahun Baru Imlek. Menjelang Imlek, pembahasan soal isi dan nominal angpau kembali ramai dibicarakan.
Bagi masyarakat Tionghoa, angpau tidak dimaknai sekadar pemberian uang. Tradisi ini mengandung doa, harapan baik, serta simbol keberuntungan bagi penerimanya.
Karena sarat makna, pengisian angpau memiliki aturan dan etika tersendiri. Nilai yang diberikan bukan soal besar kecil, melainkan niat dan filosofi di baliknya.
Dalam perayaan Imlek 2026, angpau tetap menjadi simbol kebahagiaan dan energi positif. Amplop merah dipilih karena warna tersebut melambangkan kemakmuran dan keberuntungan dalam budaya Tionghoa.
Angpau umumnya diberikan oleh orang yang lebih tua kepada yang lebih muda. Selain berbagi rezeki, tradisi ini juga menjadi bentuk doa agar penerima mendapat kelancaran hidup sepanjang tahun.
Budayawan Budi Santosa Tanuwibawa menyebut angpau sebagai simbol aliran kesejahteraan dan energi positif. Maknanya adalah berbagi rezeki dari yang mampu kepada keluarga atau kerabat.
Dalam kepercayaan lama, uang angpau tidak langsung digunakan. Angpau dianggap sebagai berkah dari Dewa Rezeki, sehingga sebaiknya disimpan terlebih dahulu sebagai lambang menjaga keberuntungan.
Terkait nominal, tidak ada aturan baku dalam tradisi angpau. Besar kecilnya uang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing pemberi.
Namun, terdapat pantangan angka dalam angpau. Nominal yang mengandung angka 4 dihindari karena bunyinya menyerupai kata “mati” dalam bahasa Mandarin.
Selain itu, jumlah ganjil juga kurang dianjurkan karena dianggap tidak membawa keberuntungan. Angka genap lebih sering dipilih karena melambangkan keseimbangan.
Ketua DPW Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) Glenn Wijaya menyebut nominal angpau biasanya disesuaikan dengan usia penerima. Anak-anak dan remaja umumnya menerima jumlah lebih kecil.
Dengan memahami makna dan etika angpau, tradisi Imlek 2026 dapat dijalani dengan lebih bermakna. Angpau bukan soal nominal, melainkan simbol doa, kebersamaan, dan harapan baik di tahun yang baru.(*)
