Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

BPS: Januari 2026 Terjadi Deflasi 0,15 Persen

Jakarta : Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Januari 2026, secara bulanan terjadi deflasi sebesar -0,15 persen. Sedangkan pada bulan sebelumnya, Desember 2025, terjadi inflasi 0,64 persen.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono saat menyampaikan perkembangan sejumlah data perekonomian pada bulan Januari 202

"Penyumbang utama deflasi Januari 2026 adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau, dengan andil inflasi 0,30 persen. komoditas penyumbang utama deflasi adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras dan telur ayam ras," kata Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, Senin, 2 Februari 2026.

Sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 2,28 persen. Pendorong inflasi di kelompok ini adalah harga emas yang mengalami kenaikan terus menerus sepanjang Januari 2026.

Sementara itu, berdasarkan komponennya, inflasi inti naik menjadi 0,37 persen pada Januari 2026. Pada Desember 2025, inflasi inti tercatat sebesar 0,20 persen.

Sedangkan komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 1,96 persen. Begitu pula komponen harga diatur pemerintah deflasi sebesar 0,32 persen.

BPS juga mencatat perkembangan inflasi di daerah yang terdampak bencana, yakni Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Pasca bencana ketiga provinsi tersebut mengalami deflasi, yang terdalam terjadi di Sumatera Barat sebesar -1,15 persen. 

"Deflasi di tiga provinsi tersebut ditopang turunnya harga kelompok makanan, minuman dan tembakau. Diantaranya komoditas cabai merah, bawang merah, cabai hijau, cabai rawit kelapa, telur ayam ras, beras dan minyak goreng," ujar Ateng.

Meski secara bulanan terjadi deflasi, secara tahunan masih terjadi inflasi sebesar 3,55 persen pada Januari 2026. Penyumbang inflasi Januari 2026 adalah kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga dengan andil inflasi 1,72 persen.

Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok tersebut adalah tarif listrik, tarif air minum PAM, sewa rumah dan bahan bakar rumah tangga. "Khusus tarif listrik dorongan inflasinya disebabkan karena fenomena low base effect, karena adanya diskon tarif listrik di tahun 2025," kata Ateng menutup keterangannya.(*)

WEB UTAMA
Hide Ads Show Ads