Kapolri Serukan Persatuan Hadapi Ketidakpastian Global
Jawa Barat : Stabilitas Nasional Menjadi Kunci Mitigasi Dampak Konflik Timur Tengah dan Ketahanan Ekonomi
Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menegaskan pentingnya konsolidasi nasional dan stabilitas keamanan dalam menghadapi dampak eskalasi geopolitik global. Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan lintas elemen yang berlangsung di Mapolda Jawa Barat, Bandung, pada pertengahan Ramadan 2026.
Di hadapan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) serta tokoh lintas agama, Kapolri menyoroti dinamika di Timur Tengah yang mulai memberikan efek domino terhadap tatanan ekonomi dan politik dunia. Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat benteng domestik agar tidak terhempas oleh ketidakpastian tersebut.
"Di tengah dinamika global ini, Indonesia harus tetap menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Hal ini krusial agar program-program strategis pemerintah dapat berjalan optimal tanpa hambatan," ujar Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam keterangannya sebagaimana dikutip pada Jumat 6 Maret 2026.
Ketahanan Pangan dan Energi
Kapolri menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah melakukan langkah-langkah mitigasi guna menjaga pertumbuhan ekonomi nasional. Fokus utama terletak pada penguatan ketahanan pangan dan energi, dua sektor yang paling rentan terdampak oleh fluktuasi situasi internasional.
Ia menekankan bahwa stabilitas keamanan dalam negeri (Kamtibmas) merupakan fondasi dasar yang memungkinkan langkah-langkah darurat maupun strategis pemerintah dapat menyentuh masyarakat secara langsung tanpa distraksi sosial.
Apresiasi Kolaborasi Regional
Selain isu makro, Jenderal Listyo Sigit juga memberikan catatan positif terhadap sinergi antara pemerintah daerah, TNI, dan Polri di Jawa Barat. Ia menilai kolaborasi antara Gubernur Jawa Barat, Pangdam III/Siliwangi, dan Kapolda Jawa Barat telah berhasil menciptakan program sosial yang konkret.
Salah satu yang mendapat sorotan adalah keberhasilan program rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) bagi warga prasejahtera.
Program ini dianggap sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam menjaga kesejahteraan rakyat di tengah situasi ekonomi yang menantang.
Acara buka puasa bersama ini ditutup dengan pesan kuat mengenai pentingnya merawat kemajemukan. Persatuan lintas elemen dianggap sebagai modal sosial terbesar Indonesia dalam menghadapi tantangan global yang diprediksi masih akan berlanjut hingga akhir tahun.(*)

