Tradisi Klasik " Ramadhan " Hidupkan Malam di Jeddah
Jeddah : Permainan Tradisional dan Kuliner Jalanan Menjadi Simbol Kebersamaan Warga Saudi di Bulan Suci
Saat matahari terbenam dan malam mulai menyelimuti kota Jeddah, suasana di berbagai sudut lingkungan berubah menjadi pusat keramaian yang penuh tawa, kompetisi persahabatan, dan aroma menggoda dari jajanan kuliner khas setempat.
Di balik kekhusyukan ibadah di bulan suci ini, tradisi turun-temurun mulai dari permainan klasik hingga kedai makanan sederhana terus menjadi pengikat yang menyatukan keluarga serta komunitas.
Bagi banyak warga, malam Ramadan terasa belum lengkap tanpa kehadiran permainan tradisional yang dahulu mendefinisikan kehidupan sosial pasca-Iftar dan salat Tarawih.
Meskipun hiburan digital kini telah merambah secara luas, permainan klasik seperti Carrom dan Baloot tetap mempertahankan eksistensinya, baik di dalam rumah maupun di tempat-tempat berkumpul warga.
Carrom, permainan papan yang memiliki akar sejarah dari anak benua India, tetap menjadi favorit lintas generasi.
Dimainkan di atas papan kayu persegi dengan empat lubang di setiap sudutnya, permainan ini menguji ketangkasan pemain dalam menyentil cakram warna-warni menggunakan gerakan jari yang presisi.
Perpaduan antara kesabaran dan strategi menjadikan permainan ini kawan setia dalam melewati panjangnya malam Ramadan.
Selain itu, Baloot yang merupakan permainan kartu populer di Arab Saudi dan wilayah Teluk, menjadi elemen penting lainnya dalam interaksi sosial.
Dimainkan oleh dua tim beranggotakan masing-masing dua orang, Baloot menuntut koordinasi tim dan kecepatan berpikir untuk mencapai skor kemenangan 152 poin.
Yasser Al-Soufi, seorang penyelenggara kompetisi Baloot malam hari di kawasan bersejarah Al-Balad, Kepada AFP menjelaskan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar permainan.
"Setiap malam dari pukul 10 hingga 12, orang-orang berkumpul untuk bermain Baloot dan menikmati waktu sosial bersama. Ini adalah cara yang luar biasa bagi teman dan tetangga untuk terhubung, tertawa, dan berbagi semangat Ramadan," ungkap Al-Soufi.
Menariknya, di samping nilai-nilai klasik tersebut, keluarga di Jeddah kini mulai merangkul inovasi baru melalui permainan bertema Ramadan yang dirancang untuk memadukan kesenangan dengan edukasi.
Beberapa toko, seperti Akwan, mulai menawarkan permainan interaktif seperti Ramadan Memory Game.
Permainan ini bertujuan memperkenalkan budaya Arab kepada anak-anak sekaligus mengasah kemampuan kognitif mereka.
Selain itu, terdapat pula Tharaba Cards, sebuah perangkat kartu edukasi yang mengajarkan ungkapan sopan santun, tata krama, dan frasa sosial harian dalam konteks keramahtamahan serta rasa syukur.
Evolusi tradisi ini menunjukkan bahwa di tengah modernisasi, masyarakat Jeddah tetap menjaga akar budaya mereka, memastikan bahwa pesan kebersamaan dan nilai luhur Ramadan terus diwariskan kepada generasi mendatang.(*)


