Bisakah Alergi Sembuh Total? Ini Penjelasan Medisnya
Karawang : Tak sedikit orang berharap alergi bisa hilang sepenuhnya seiring waktu. Tak sedikit penderita alergi merasa gejalanya mulai berkurang saat beranjak dewasa atau setelah lama menghindari pemicunya.
Pertanyaannya, namun apakah alergi benar-benar bisa sembuh?
Sebagian alergi memang dapat membaik, lebih terkontrol, bahkan menghilang dalam periode tertentu. Meski begitu, banyak kasus alergi sebenarnya bersifat kronis dan tidak bisa benar-benar hilang permanen.
Melansir dari Mayo Clinic, Rabu (24/6/26), alergi terjadi ketika sistem imun salah mengenali zat tertentu sebagai ancaman berbahaya. Tubuh kemudian memproduksi antibodi imunoglobulin E (IgE) yang memicu pelepasan histamin dan menyebabkan reaksi alergi seperti gatal, ruam, bersin, hingga sesak napas.
Karena melibatkan memori sistem imun, respons alergi sering bertahan lama dalam tubuh. Itulah sebabnya umumnya lebih sering digunakan istilah dikontrol atau remisi dibanding benar-benar sembuh total.
Adapun itu, bukan berarti penderita alergi tidak bisa hidup normal. Banyak alergi dapat dikendalikan dengan baik sehingga gejalanya jarang muncul atau bahkan tidak kambuh dalam waktu lama.
Pengendalian alergi biasanya dilakukan melalui kombinasi beberapa cara, mulai dari menghindari alergen, penggunaan antihistamin dan kortikosteroid, hingga imunoterapi atau allergy shots.
Imunoterapi sendiri merupakan terapi yang bertujuan melatih tubuh agar lebih toleran terhadap zat pemicu alergi secara bertahap. Reaksi sistem imun terhadap alergen tertentu dapat berkurang seiring waktu setelah terapi dilakukan secara rutin.
Dalam beberapa kondisi, terutama alergi makanan pada anak, gejalanya memang dapat membaik atau bahkan hilang seiring pertumbuhan usia.
Studi berjudul Natural course of IgE-mediated food allergy in children menjelaskan alergi susu sapi termasuk yang cukup sering membaik. Penelitian menunjukkan, sekitar 42 persen anak sudah mulai toleran terhadap susu sapi di usia 8 tahun, dan angka tersebut meningkat menjadi 79 persen pada usia 16 tahun.
Alergi telur juga memiliki prognosis yang relatif lebih baik, sekitar 66-71 persen anak mulai toleran terhadap telur pada usia 4-6 tahun. Bahkan hampir 89 persen kasus alergi telur dapat mengalami resolusi saat anak beranjak besar hingga remaja.
Namun, tak semua jenis alergi memiliki pola yang sama.Alergi kacang tanah dan seafood justru lebih sering menetap hingga dewasa. Alergi kacang, tree nuts, dan seafood memang termasuk jenis alergi yang cenderung persisten atau bertahan lama.
Pada alergi kacang tanah, misalnya, hanya sekitar 20-30 persen anak yang akhirnya mengalami toleransi saat tumbuh besar.
Hal serupa juga ditemukan pada alergi seafood, tingkat toleransi penuh hanya sekitar 3,4 persen pada anak prasekolah dan meningkat menjadi sekitar 45 persen saat remaja.
Oleh karena itu, perjalanan alergi tiap orang bisa berbeda-beda. Ada orang yang alerginya membaik drastis saat dewasa, ada pula yang tetap sensitif terhadap alergen tertentu sepanjang hidup.(*)
