Mengapa Sejarah Terus Berulang? Allah yang Mengulang, atau Kitalah yang Tak Pernah Belajar?*
Karawang : Pernahkah kita bertanya, mengapa sejarah seolah diputar ulang? (17/7/26)
Mengapa sebuah bangsa yang dahulu begitu kuat seperti Mongol,Majapahit dan lain-lain akhirnya runtuh? Mengapa sebuah keluarga yang awalnya harmonis perlahan retak? Mengapa sebuah organisasi yang pernah berjaya akhirnya kehilangan arah? Dan mengapa, dalam kehidupan pribadi, kita sering jatuh pada lubang yang sama, meski sudah berkali-kali berjanji untuk tidak mengulanginya?
Apakah waktu memang bergerak melingkar?
Ataukah manusialah yang terus mengulang sebab-sebab yang sama?
Pertanyaan itu membawa saya merenung cukup lama...
Karena itu, Al-Qur'an tidak pernah menceritakan kisah Fir'aun, kaum 'Ad, Tsamud, atau Bani Israil hanya untuk dikenang. Allah mengulang kisah-kisah itu agar manusia memahami bahwa ada pola yang selalu bekerja di balik setiap peristiwa.
Al-Qur'an ternyata sudah lama memberikan jawabannya.
> قد خلت من قبلكم سنن فسيروا في الأرض فانظروا كيف كان عاقبة المكذبين
"Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (ketetapan Allah terhadap umat-umat terdahulu). Maka berjalanlah di bumi dan perhatikan bagaimana kesudahan mereka." (QS. Ali 'Imran: 137)
Perhatikan kata سُنَنٌ (sunan). Allah tidak mengatakan sejarah hanya berisi cerita, tetapi hukum-hukum kehidupan. Selama sebabnya sama, akibatnya pun akan sama. Itulah yang disebut sunnatullah.
_Rasa sombong selalu melahirkan kehancuran._
_Ketidakadilan selalu melahirkan perlawanan._
_Kemalasan selalu melahirkan ketertinggalan._
_Keserakahan selalu melahirkan konflik._
_Amanah selalu melahirkan kepercayaan._
_Ilmu selalu melahirkan kemajuan._
*Sebab-sebab itu tidak pernah berubah sejak Nabi Adam hingga hari ini.*
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan,
لتتبعن سنن من كان قبلكم شبرا بشبر وذراعا بذراع...
"Kalian benar-benar akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta..." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar ramalan tentang masa depan. Ia adalah peringatan bahwa manusia memiliki kecenderungan meniru, termasuk meniru kesalahan generasi sebelumnya apabila kehilangan petunjuk.
Berabad-abad yang lalu, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa setiap peradaban memiliki siklus. Mereka bangkit karena semangat, runtuh karena terlena. Arnold Toynbee menyebutnya "Challenge and Response", yaitu peradaban akan bertahan selama mampu menjawab tantangan zamannya.
Peter Drucker mengingatkan,
"Culture eats strategy for breakfast."
Budaya yang buruk akan mengalahkan strategi yang hebat.
Jim Collins dalam Good to Great menemukan fakta yang mengejutkan. Banyak organisasi besar tidak hancur karena pesaingnya lebih kuat, tetapi karena kehilangan disiplin dari dalam. Ia menulis"Greatness is not a function of circumstance. Greatness, it turns out, is largely a matter of conscious choice and discipline."
_Kehebatan bukan ditentukan oleh keadaan, tetapi oleh pilihan sadar dan disiplin yang dijaga terus-menerus._
Bukankah ini sejalan dengan firman Allah?
> إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Artinya, Allah telah menetapkan hukumnya. Jika sebabnya berubah, akibatnya pun akan berubah. Tetapi jika manusia terus mengulang kesombongan, kemalasan, perpecahan, dan pengkhianatan, maka jangan heran jika hasil akhirnya pun sama.
Di sinilah saya memahami bahwa kehidupan memiliki sifat *cyclic*. Bukan karena Allah menghendaki manusia terus berputar dalam lingkaran yang sama, tetapi karena manusia sering kali enggan memperbaiki sebab-sebab yang melahirkan akibat.
Allah telah menetapkan hukum-Nya.
Barang siapa menanam kejujuran, ia sedang menanam kepercayaan.
Barang siapa menanam ilmu, ia sedang menanam kemajuan.
Barang siapa menanam pengkhianatan, ia sedang menanam kehancurannya sendiri.
Sunnatullah tidak memilih siapa pun. Ia berlaku kepada individu, keluarga, organisasi, bahkan bangsa.
Karena itu, kita jangan hanya bertanya, "Bagaimana menjadi besar?"
Bertanyalah terlebih dahulu,
"Mengapa mereka yang pernah besar akhirnya jatuh?"
Disebabkan membangun peradaban bukan hanya belajar meraih puncak, tetapi belajar agar tidak mengulangi sebab-sebab yang pernah menjatuhkan para pendahulu dan kaum sebelumnya.
George Santayana pernah berkata,
"Those who cannot remember the past are condemned to repeat it."
"Mereka yang tidak mau belajar dari masa lalu akan dihukum untuk mengulanginya."
Dan Al-Qur'an telah mengajarkan prinsip itu jauh lebih dahulu.
"Sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Sejarah adalah cermin sunnatullah. Siapa yang mampu membacanya akan masa depan. Siapa yang mengabaikannya akan mengulang kesalahan yang sama." (*)
