Petugas Paskibraka Jadi Ulama Muda di Karawang
Karawang : Ketika saya menghadiri Upacara Pengukuhan Paskibraka Kabupaten Karawang pada tanggal 14 Agustus 2026 di Plaza Pemda Karawang, ada sesuatu yang kembali menyala dalam diri saya. Melihat para calon Paskibraka berdiri tegap, rapi dan penuh kesungguhan, saya seperti kembali ke sebuah fase kehidupan yang pernah saya jalani, meskipun saat ini kemana-mana saya sarungan dan pecian.
Saya adalah Purna Paskibraka Indonesia.
Karena itu, pengukuhan tersebut bukan sekadar sebuah seremoni bagi saya. Ia membawa saya kembali kepada masa pemusatan latihan, karantina, latihan fisik, kedisiplinan, kebersamaan, tekanan, kelelahan dan berbagai proses yang dahulu mungkin terasa berat, tetapi kemudian saya sadari memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter.
Dulu saya mungkin hanya merasakan bahwa Paskibraka mengajarkan bagaimana berdiri tegap, berjalan serempak, mengikuti aba-aba dan menjalankan tugas dengan sempurna.
Namun setelah melewati perjalanan kehidupan yang lebih panjang, saya melihatnya dari perspektif yang berbeda.
Paskibraka sesungguhnya adalah sebuah proses pendidikan karakter.
Disiplin bukan sekadar kepatuhan
Dalam kehidupan, disiplin sering dipahami secara sederhana sebagai kepatuhan terhadap aturan. Padahal secara psikologis, disiplin memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.
Disiplin berkaitan dengan kemampuan seseorang mengatur perilaku, mengendalikan dorongan, mempertahankan perhatian, mengelola emosi dan tetap menjalankan tindakan yang mengarah kepada tujuan meskipun menghadapi ketidaknyamanan.
Di sinilah pengalaman Paskibraka menjadi menarik.
Ketika seorang Paskibraka harus bangun pada waktu tertentu, mempersiapkan perlengkapan, mengikuti latihan, menerima koreksi, mengulangi gerakan dan mempertahankan standar performa, sebenarnya sedang berlangsung proses pembentukan self-regulation atau pengaturan diri.
Psikolog Albert Bandura memberikan kontribusi besar terhadap pemahaman mengenai hal tersebut melalui teori Social Cognitive Theory.
Dalam bukunya Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory yang terbit pada 1986, Bandura menjelaskan bagaimana perilaku manusia terbentuk melalui interaksi antara faktor personal, perilaku dan lingkungan. Ia juga memberikan perhatian besar terhadap proses observasi, pembelajaran sosial, regulasi diri dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri.
Jika perspektif tersebut diterapkan pada pengalaman Paskibraka, lingkungan latihan menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter.
Seorang peserta melihat senior dan pelatih. Ia mengamati, meniru, ia mendapatkan umpan balik, melakukan kesalahan, Ia memperbaiki diri kemudian mencoba kembali.
Secara perlahan, perilaku yang semula dilakukan karena instruksi eksternal dapat berkembang menjadi kemampuan mengatur diri.
Di sinilah letak perbedaan antara disiplin karena diawasi dan disiplin karena kesadaran.
Dari aba-aba menuju pengendalian diri
Ada fase dalam pendidikan ketika seseorang harus belajar mengikuti aturan dari luar dirinya.
Anak belajar karena orang tua mengingatkan.
Pelajar belajar karena guru mengawasi.
Paskibraka berlatih karena pelatih memberikan instruksi.
Namun pendidikan yang berhasil tidak berhenti pada tahap tersebut.
Tujuan akhirnya adalah internalisasi.
Seseorang akhirnya mampu berkata kepada dirinya sendiri
Saya harus datang tepat waktu meskipun tidak ada yang mengawasi.
Saya harus menyelesaikan tugas meskipun tidak ada yang memerintah.
Saya harus memperbaiki kesalahan meskipun tidak ada yang memarahi.
Saya harus menjaga integritas meskipun tidak ada yang mengetahui.
Pada titik itulah disiplin berubah menjadi karakter.
Bandura menyebut pentingnya self-efficacy, yaitu keyakinan seseorang terhadap kemampuannya untuk mengorganisasi dan melaksanakan tindakan yang diperlukan guna mencapai tujuan tertentu. Konsep ini menjadi salah satu bagian penting dalam teori kognitif sosialnya.
Paskibraka memberikan banyak pengalaman yang dapat memperkuat keyakinan tersebut.
Seorang peserta yang awalnya merasa tidak mampu dapat belajar bahwa kemampuan dibangun melalui latihan.
Gerakan yang awalnya sulit dapat menjadi terampil setelah pengulangan.
Tugas yang awalnya terasa berat dapat diselesaikan melalui kerja sama.
Tekanan yang awalnya membuat takut dapat dihadapi melalui latihan dan pengalaman.
Dari sana tumbuh sebuah kesadaran
Saya ternyata mampu menghadapi sesuatu yang sebelumnya saya pikir tidak mampu saya lakukan.
Kesadaran seperti inilah yang kemudian dapat dibawa seseorang ke berbagai bidang kehidupan.
Psikologi modern dan kekuatan ketekunan
Perspektif lain yang menarik datang dari psikolog Angela Duckworth melalui bukunya Grit: The Power of Passion and Perseverance.
Duckworth menggunakan istilah grit untuk menggambarkan kombinasi antara passion dan perseverance dalam mengejar tujuan jangka panjang. Penelitiannya banyak membahas bagaimana ketekunan dan orientasi terhadap tujuan berhubungan dengan pencapaian.
Konsep tersebut memiliki resonansi kuat dengan pengalaman Paskibraka.
Latihan tidak selalu menyenangkan.
Mengulang gerakan yang sama berkali-kali dapat melelahkan.
Bangun pagi ketika tubuh masih ingin tidur bukan sesuatu yang selalu mudah.
Menerima koreksi berulang kali juga membutuhkan kerendahan hati.
Namun justru di situlah seseorang belajar bahwa pencapaian tidak selalu lahir dari kenyamanan.
Ada tujuan yang harus diperjuangkan.
Ada proses yang harus dijalani.
Ada kegagalan yang harus diperbaiki.
Dan ada ketekunan yang harus dipelihara.
Namun penelitian tentang grit juga berkembang dan tidak boleh disederhanakan menjadi gagasan bahwa ketekunan saja otomatis menjamin kesuksesan. Meta-analisis terhadap penelitian grit menunjukkan bahwa unsur passion dan perseverance perlu dilihat secara lebih hati-hati.
Artinya, disiplin yang sehat bukan sekadar memaksa seseorang bertahan.
Disiplin harus memiliki arah, Harus memiliki tujuan. Harus memiliki nilai Dan harus dibangun dengan cara yang manusiawi.
Kebiasaan kecil yang membentuk karakter besar
Dalam literatur populer mengenai pembentukan kebiasaan, James Clear melalui bukunya Atomic Habits menjelaskan bagaimana perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membentuk sistem perilaku dan identitas seseorang.
Clear menekankan pentingnya membangun sistem dan kebiasaan yang membuat perilaku baik lebih mudah dilakukan secara konsisten.
Jika kita melihat Paskibraka melalui perspektif ini, latihan sebenarnya merupakan laboratorium kebiasaan.
Tepat waktu, rapi, teratur, responsif terhadap instruksi, menjaga perlengkapan, menjaga tubuh, menjaga kekompakan, mengulangi gerakan, memperbaiki kesalahan.
*Semua dilakukan berkali-kali.*
Pada awalnya mungkin terasa sebagai aturan.
Lama-kelamaan menjadi kebiasaan. Dan ketika kebiasaan itu dibawa keluar dari lapangan, ia dapat menjadi bagian dari identitas.
Inilah salah satu alasan mengapa pengalaman pendidikan yang intens pada masa muda dapat meninggalkan jejak yang panjang.
Menariknya, jauh sebelum psikologi modern berbicara tentang self-regulation, Islam telah memberikan perhatian besar terhadap pengendalian diri, keteraturan, amanah dan konsistensi.
Allah SWT berfirman dalam QS Ash-Shaff ayat 4
«إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ»
«Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.»
Ayat tersebut berbicara dalam konteks perjuangan di jalan Allah, sehingga tidak tepat jika langsung disamakan dengan kegiatan Paskibraka. Namun dari ayat tersebut terdapat nilai tentang keteraturan, kekompakan, kesatuan dan keteguhan yang secara prinsip dapat menjadi bahan refleksi dalam kehidupan sosial.
Dalam barisan Paskibraka, setiap orang memiliki posisi. Tidak boleh semua orang bergerak sesuka hati. Satu orang yang tidak disiplin dapat memengaruhi keseluruhan formasi. Dari sini saya belajar satu prinsip penting
*Saya penting, tetapi saya bukan satu-satunya yang penting.* Saya adalah bagian dari sebuah kesatuan. Prinsip ini sangat penting dalam kehidupan berbangsa.
*Indonesia tidak dibangun oleh satu orang.*
Indonesia dibangun oleh jutaan manusia yang menjalankan amanah masing-masing.
Rasulullah ﷺ bersabda
«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ»
«Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.»
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim ini mengajarkan bahwa tanggung jawab bukan monopoli pejabat atau pemimpin formal.
Setiap manusia memiliki ruang pengabdian, dari lapangan Paskibraka ke pesantren. Perjalanan hidup kemudian membawa saya menjadi pimpinan sekaligus pengasuh pesantren.
Di titik ini saya menemukan sesuatu yang menarik.
Nilai-nilai kedisiplinan yang dahulu saya temukan di lapangan Paskibraka ternyata sangat relevan dengan dunia pendidikan pesantren.
Dahulu saya belajar bangun tepat waktu, Kini saya membimbing santri untuk bangun tepat waktu.
Dahulu saya belajar mengikuti aba-aba, Kini saya berusaha mendidik santri agar mampu mengatur dirinya sendiri.
Dahulu saya belajar bertanggung jawab terhadap formasi, Kini saya belajar bertanggung jawab terhadap generasi.
Dahulu saya belajar menjaga kehormatan Sang Merah Putih, Kini saya berusaha menjaga kehormatan ilmu, agama, lembaga pendidikan dan bangsa melalui pendidikan generasi muda.
Di pesantren, disiplin memiliki dimensi yang lebih luas, bangun untuk tahajud, menjaga shalat berjamaah, menghafal Al-Qur'an, belajar kitab, menjaga kebersihan, menghormati guru, mengatur waktu, menjaga adab dan menyelesaikan tugas.
Semua itu pada akhirnya bermuara pada pembentukan manusia yang mampu mengendalikan dirinya.
Karena pendidikan yang paling tinggi bukan ketika seseorang disiplin karena takut kepada pengawas.
Pendidikan yang lebih tinggi adalah ketika seseorang memiliki pengawas di dalam dirinya sendiri. Kesadaran, Iman, Tanggung jawab dan integritas.
Patriotisme yang berubah bentuk
Dulu saya berdiri tegap di lapangan, Kini saya berdiri di hadapan para santri.
Dulu lapangan menjadi tempat saya ditempa, Kini pesantren menjadi medan perjuangan saya.
Dulu saya belajar menjadi bagian dari sebuah formasi, Kini saya belajar membentuk sebuah generasi.
Karena itu, saya semakin memahami bahwa patriotisme tidak selalu berbentuk keberanian berada di medan perang. Patriotisme juga dapat hadir dalam bentuk seorang guru yang setia mendidik.
Seorang santri yang bersungguh-sungguh belajar.
Seorang petani yang bekerja menyediakan pangan.
Seorang pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan.
Seorang dokter yang melayani masyarakat.
Seorang aparat yang menjalankan tugas dengan amanah.
Dan seorang pemimpin pesantren yang berusaha menyiapkan generasi berilmu, berakhlak, disiplin dan mencintai tanah air.
Medannya berbeda.
Bentuk pengabdiannya berbeda.
Namun spiritnya sama.
Yakni memberikan sesuatu yang terbaik untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri.
Paskibraka bukan sekadar tentang bendera
Karena itu, ketika melihat para Paskibraka Kabupaten Karawang yang baru saja dikukuhkan, saya tidak hanya melihat anak-anak muda yang akan menjalankan tugas dalam sebuah upacara.
Saya melihat calon-calon manusia yang sedang belajar tentang tanggung jawab.
Saya melihat generasi yang sedang belajar bahwa kehormatan harus dibayar dengan disiplin.
Saya melihat anak-anak muda yang sedang belajar bahwa keberhasilan sebuah kelompok bergantung pada kesediaan setiap individu menjalankan perannya.
Dan saya berharap pengalaman tersebut tidak berhenti ketika masa tugas mereka selesai.
Seragam boleh dilepas, barisan boleh dibubarkan, masa karantina boleh berakhir. Tetapi nilai yang ditanamkan selama proses itu harus tetap hidup.
Disiplin dibawa ke tempat kerja.
Integritas dibawa ke dunia usaha.
Nasionalisme dibawa ke masyarakat.
Kepemimpinan dibawa ke organisasi.
Dan patriotisme diwujudkan dalam karya.
Saya dahulu mengabdi melalui Paskibraka.
Kini saya mengabdi melalui pesantren.
Dahulu lapangan menjadi tempat saya belajar tentang kedisiplinan, Kini pesantren menjadi tempat saya berusaha menanamkan kedisiplinan kepada generasi penerus.
Medannya berubah, tetapi semangat pengabdiannya tetap sama.
Pada akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan
Purna Paskibraka bukan berarti purna dari nilai-nilai Paskibraka, Yang purna adalah masa tugasnya, Yang terus hidup adalah semangatnya.
Semangat disiplin, semangat tanggung jawab, semangat persatuan, semangat nasionalisme, semangat patriotisme dan semangat pengabdian.
Merah Putih bukan hanya untuk dikibarkan.
Nilainya harus diwujudkan.
Disiplin bukan hanya untuk diperintahkan.
Ia harus menjadi karakter.
Nasionalisme bukan hanya untuk diucapkan.
Ia harus menjadi perilaku.
Patriotisme bukan hanya untuk dikenang.
Ia harus diteruskan.
Dan pendidikan adalah salah satu jalan paling strategis untuk meneruskan perjuangan tersebut kepada generasi berikutnya.
Sekali Paskibraka, tetap Paskibraka. Sekali mengabdi kepada bangsa, jangan berhenti memberi arti.(*)
