Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Iran Siapkan Strategi Tanpa Batas: Kilang Minyak, Kabel Bawah Laut, dan Pusat Data 7 Negara Jadi Target Balasan

Iran : Pemerintah Iran menyatakan kesiapan untuk memperluas cakupan sasaran militer hingga ke fasilitas energi dan infrastruktur digital di kawasan Teluk apabila Amerika Serikat beserta Israel kembali melancarkan aksi militer.

Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei

Sekretaris Dewan Tertinggi Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, mengonfirmasi bahwa potensi serangan balasan Teheran tidak lagi terbatas pada instalasi militer konvensional.

Dalam skenario konflik susulan, cakupan sasaran mencakup kilang minyak, kabel bawah laut, pusat data, hingga fasilitas kecerdasan buatan (AI) di sedikitnya tujuh negara tetangga.

"Apabila eskalasi kembali terjadi, rencana penindakan yang kami siapkan jauh lebih luas. Tidak ada rasionalitas di mana jalur perekonomian Iran dihancurkan, sementara arsitektur ekonomi yang menopang serangan tersebut tetap aman," ujar Rezaei, sebagaimana dilaporkan media lokal Iran, Kamis, 22 Oktober 2026.

Langkah tegas ini diperkuat oleh penjelasan Mehdi Mohammadi, penasihat senior parlemen Iran. Ia menegaskan bahwa Teheran memandang potensi perang babak ketiga ini sebagai ancaman eksistensial, sehingga strategi pertahanan tidak lagi mengenal batasan geografis maupun durasi waktu.

Ketegangan Geopolitik dan Dampak Pasar Energi

Sinyal memanasnya situasi di Asia Barat langsung memicu gejolak di pasar komoditas global. Harga minyak mentah jenis Brent melonjak hingga mendekati US$113,4 per barel, disulut oleh kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menyalurkan sepertiga minyak mentah dunia lewat jalur laut.

Laporan internal media Amerika Serikat mengindikasikan bahwa penasihat militer Washington telah menyusun daftar target potensial yang mencakup fasilitas rudal, instalasi nuklir, dan infrastruktur minyak Iran. Skenario operasi gabungan tersebut diperkirakan siap direalisasikan dalam beberapa pekan mendatang seiring peningkatan pengerahan alutsista AS di kawasan.

Diplomasi Regional dan Risiko Krisis Kemanusiaan

Menanggapi potensi krisis beruntun ini, para menteri luar negeri dari sejumlah negara termasuk Turki, Arab Saudi, Pakistan, Mesir, dan tiga negara Eropa dijadwalkan menggelar pertemuan darurat di Istanbul. Agendanya menitikberatkan pada perumusan kebijakan bersama guna meredam ketegangan di Iran, Yaman, dan Palestina.

Pakar hukum internasional yang memiliki kedekatan dengan Kementerian Luar Negeri Iran, Reza Nasri, memperingatkan bahwa perang terbuka babak baru berisiko melumpuhkan stabilitas sosial-ekonomi kawasan secara total.
Iran Siapkan Strategi Tanpa Batas: Kilang Minyak, Kabel Bawah Laut, dan Pusat Data 7 Negara Jadi Target Balasan

"Eskalasi lanjutan tidak akan terisolasi. Apabila infrastruktur vital seperti pembangkit listrik, fasilitas desalinasi air, dan pelabuhan hancur, puluhan juta warga akan kehilangan akses kebutuhan dasar. Hal tersebut berpotensi memicu gelombang pengungsi besar-besaran menuju Eropa sekaligus mendorong perekonomian dunia ke arah resesi," tutur Reza Nasri.

Di tengah meningkatnya retorika militer, upaya mediasi bilateral antara Iran dan Pakistan masih terus bergulir. Opsi gencatan senjata yang ditawarkan mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan izin inspeksi nuklir oleh PBB, dengan syarat Pemerintah Amerika Serikat mencabut sanksi ekonomi secara menyeluruh.

Sumber: The Guardian