Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

China Larang Drama Bertemakan CEO yang Tak Realistis

Jakarta : Dunia hiburan digital Tiongkok sedang mengalami "patah hati" massal. Jika biasanya layar ponsel warganet di sana dipenuhi dengan kisah romansa manis antara CEO tampan yang dingin dengan gadis polos nan miskin, kini konten tersebut perlahan mulai menghilang.
Foto: Channel Youtube Gemar Film China

Pemerintah Tiongkok secara resmi memperketat aturan main bagi industri drama pendek (micro-dramas). Otoritas penyiaran di Tiongkok, termasuk National Radio and Television Administration (NRTA), menilai bahwa alur cerita yang terlalu seragam dan fantastis ini memberikan dampak kurang baik bagi masyarakat. Beberapa alasan utamanya adalah:

- Terlalu jauh dari realitas

Dianggap menciptakan ekspektasi yang tidak sehat tentang pernikahan dan status sosial. Kehidupan nyata dianggap tidak semudah "menikah dengan konglomerat lalu semua masalah selesai.

- Pemujaan Terhadap Kekayaan

Drama-drama ini sering kali memamerkan gaya hidup mewah yang berlebihan (money worship) yang bertentangan dengan nilai-nilai kesederhanaan yang ingin dipromosikan pemerintah.

- Kualitas Konten yang Rendah

Karena diproduksi dengan cepat (durasi hanya 1-2 menit per episode), banyak drama ini yang hanya mengejar sensasi dan mengabaikan nilai estetika serta pesan moral yang mendalam.

Langkah ini diambil setelah industri drama pendek meledak di Tiongkok. Nilai pasarnya mencapai miliaran Yuan, namun kualitasnya dianggap makin merosot.

Pemerintah menginginkan kreator beralih ke tema-tema yang lebih membumi, seperti kisah perjuangan anak muda di dunia kerja yang nyata, kehangatan keluarga, atau pelestarian budaya. Kini, setiap drama pendek yang ingin tayang harus melewati proses sensor yang lebih ketat.

Jika alur ceritanya dianggap "terlalu halu" atau mengandung nilai-nilai materialisme yang vulgar, maka izin tayangnya tidak akan keluar. Tanggapan netizen pun terbelah, ada yang merasa sedih karena kehilangan hiburan "pelarian" setelah lelah bekerja, namun banyak juga yang setuju.

Dengan adanya aturan ini, industri kreatif Tiongkok ditantang untuk lebih inovatif. Tantangannya kini adalah Bisakah membuat drama yang tetap baper tanpa harus mengandalkan sosok CEO yang punya jet pribadi? (*)