Pedagang Daging Sapi Jabodetabek Mogok Jualan hingga Sabtu
Jakarta :; Pedagang daging sapi dan bandar sapi potong di wilayah Jabodetabek melakukan aksi mogok jualan selama tiga hari dimulai hari ini, Kamis, 22 Januari 2026. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk protes atas mahalnya harga sapi hidup di tingkat feedloter atau tempat penggemukan hewan ternak yang berdampak pada kenaikan harga daging sapi.
Informasi yang kami peroleh dari Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia atau JAPPDI, aksi mogok dagang tersebut berlangsung di hampir 90 persen pedagang daging sapi di pasar tradisional dan rumah pemotongan hewan se-Jabodetabek. Para pedagang menghentikan aktivitas penjualan karena menilai kondisi harga saat ini tidak lagi sebanding dengan daya beli masyarakat.
Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia, Wahyu Purnama, mengatakan mahalnya harga sapi hidup membuat harga karkas atau bagian tubuh dari ternak yang telah disembelih dan telah dikuliti sekaligus dikeluarkan isi perutnya di rumah pemotongan hewan ikut naik. Kondisi itu, kata dia, membuat pedagang kesulitan menjual daging kepada konsumen.
“Maka, melalui surat ini kami memberitahukan bahwa seluruh anggota Asosiasi Pedagang Daging Indonesia bandar sapi potong dan pedagang daging akan melakukan aksi mogok dagang sebagai bentuk protes dan keprihatinan,” ujar Wahyu.
Dalam surat tersebut, Wahyu menyebut hasil rapat dengan Kementerian Pertanian pada 5 Januari 2026 terkait jaminan stabilitas harga sapi hidup selama dua pekan tidak terealisasi. Ia menilai harga sapi hidup di feedloter terlalu tinggi sehingga menekan pelaku usaha di sektor hilir.
Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia, Asnawi, menjelaskan fluktuasi harga sudah terjadi sejak November 2025. Ia mengatakan harga sapi hidup yang semula berada di kisaran Rp47.000 per kilogram kini naik hingga Rp55.500 per kilogram.
“Kalau dikonversi ke harga karkas, sekarang sudah berada di kisaran Rp109.000 hingga Rp111.000 per kilogram, sehingga kenaikan per ekor bisa mencapai lebih dari Rp3.000.000,” ucap Asnawi.
Menurut Asnawi, ketergantungan impor sapi bakalan serta melemahnya nilai tukar rupiah turut memicu kenaikan harga dari sektor hulu. Ia menyebut Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan daging nasional secara mandiri sehingga gejolak harga sulit dihindari.
Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, termasuk kelonggaran kebijakan impor, untuk menjaga stabilitas harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. “Kami berharap pemerintah bisa hadir menengahi agar harga kembali stabil dan pedagang dapat berjualan normal,” kata Asnawi.(*)

