Presiden Curhat di Karawang, Prabowo Sebut Pernah Dituduh Mau Jadi Diktator
Karawang: Presiden Prabowo Subianto mengaku pernah dituduh sebagai diktator hingga hendak melakukan kudeta saat memperjuangkan kepentingan bangsa. Tuduhan tersebut, menurut Presiden, muncul di tengah perjuangannya melawan ketidakadilan yang dialami rakyat Indonesia.(8/1/26).
![]() |
| Presiden Prabowo Subianto saat menyampaikan sambutannya dalam kegiatan panen raya sekaligus pengumuman swasembada beras di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026) (Foto) |
“Saya bisa merasakan keadilan dan tidak adanya keadilan, karena itu saya berjuang terus. Saya dituduh mau jadi diktator, saya dituduh mau berkuasa, saya dituduh mau kudeta,” kata Presiden saat menghadiri panen raya sekaligus pengumuman swasembada beras di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1/2026).
Presiden mengungkapkan, keprihatinannya berawal dari kondisi bangsa yang kaya sumber daya alam, namun belum sepenuhnya mampu memakmurkan rakyatnya. Ia menilai banyak kekayaan nasional tidak dikelola dan dinikmati secara adil oleh masyarakat.
Sebelum menjabat sebagai Presiden, ia menyebut dirinya telah berjuang melalui berbagai peran, termasuk sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Dari posisi tersebut, ia melihat adanya ketimpangan dalam pengelolaan kekayaan negara.
“Dari dulu saya mengerti hal ini, tapi saya tidak mengerti seberapa banyak kebocoran itu. Saya melihat ada kejanggalan di bangsa kita, saya melihat sudah berapa tahun negara yang begini kaya rakyatnya masih banyak yang miskin,” ujar Presiden.
Menurut Kepala Negara, kondisi tersebut tidak dapat diterima oleh akal sehat. Ia mempertanyakan ketergantungan Indonesia terhadap impor pangan, padahal memiliki tanah yang subur dan sumber daya alam yang melimpah.
“Hal yang tidak masuk di akal saya, bagaimana bisa negara yang begini besar, negara yang diberi karunia oleh Yang Maha Kuasa bumi yang luas. Diberikan bumi yang kaya, tanah yang subur, tetapi kita tergantung bangsa lain untuk pangan kita,” ucap Presiden dengan tegas.
Presiden menegaskan bahwa dirinya mungkin bukan sosok akademisi dengan gelar tinggi. Namun Presiden meyakini, ia memiliki kepekaan untuk membedakan kebijakan yang masuk akal dan tidak bagi kepentingan rakyat.
“Saya memang bukan orang pintar. Saya tidak punya gelar profesor, tapi saya bisa melihat yang benar dan yang tidak benar,” kata Presiden.(*)

