Pemkab Lumajang Bangun Infrastruktur Pengendali Lahar Semeru
Lumajang : Pemerintah Kabupaten Lumajang membangun infrastruktur pengendali lahar Gunung Semeru. Ini sebagai upaya mempercepat mitigasi (mengurangi resiko) bencana Gunung Semeru dan melindungi masyarakat di kawasan.
![]() |
| Warga melihat material lahar Gunung Semeru yang mengalir di Kali Regoyo, Desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang, Jawa Timur (Foto: BPBD ) |
Sekretaris Daerah Kabupaten Lumajang, Agus Triyono, mengatakan pembangunan infrastruktur adalah merupakan investasi keselamatan jangka panjang. "Ini bukan sekadar pembangunan fisik sesaat,” kata Agus dalam keterangannya di Lumajang, Sabtu 7 Februari 2026.
Pembangunan ini bagian dari Bantuan Pengurangan Resiko Bencana Vulkanik ("Volcanic Disaster Risk Reduction Sector Loan (VDRRSL). Proyek ini adalah bantuan dari JICA (Japan International Cooperation Agency) yang terbagi dalam dua proyek yaitu Paket S2 dan S4.
Paket S2 berlokasi di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Paket ini difokuskan pada penguatan mitigasi di wilayah hulu DAS Bondoyudo–Bedadung yang merupakan jalur utama aliran lahar Semeru.
Proyek ini mencakup pembangunan dua unit bangunan pengendali sedimen (check dam/sabodam) dan penyangga beton sepanjang sekitar 900 meter. Di samping itu juga akan dibangun jalan akses dan pelintas sepanjang kurang lebih 500 meter.
Infrastruktur tersebut dirancang mampu menampung material sedimen dan debris vulkanik hingga sekitar 1 juta meter kubik. Bangunan ini untuk mengurangi daya rusak aliran lahar sebelum mencapai kawasan permukiman dan pertanian di wilayah hilir.
Sementara itu, Paket S4 berlokasi di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, menyasar wilayah tengah hingga hilir DAS Bondoyudo–Bedadung. Lokasi ini yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap banjir lahar dan sedimentasi.
Lingkup pekerjaan meliputi pembangunan satu unit consolidation dam, enam ruas tanggul pengarah aliran dengan total panjang sekitar 2.500 meter. Serta penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) secara ketat.
Dengan kapasitas tampungan sedimen sekitar 0,34 juta meter kubik, Package S4 diharapkan mampu melindungi kawasan Candipuro. Proyek ini juga untuk memperkuat ketahanan infrastruktur dan aktivitas sosial ekonomi masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Lumajang mengatakan pihaknya telah sosialisasi kepada masyarakat. Proyek ini menjadi bagian dari strategi penguatan tata kelola mitigasi bencana dengan menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas utama.
VDRRSL dirancang untuk merespons karakteristik risiko Gunung Semeru yang bersifat berulang, progresif, dan berdampak lintas wilayah. Kawasan terdampak yang menjadi "langganan" khususnya di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bondoyudo–Bedadung.
Meski demikian, Pemkab Lumajang menekankan bahwa pelaksanaan proyek tidak terlepas dari realitas sosial di lapangan. Khususnya, aktivitas penambangan pasir rakyat yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat.
“Mitigasi bencana harus berjalan seiring dengan pengelolaan sosial. Koordinasi lintas sektor mutlak diperlukan agar pembangunan tetap tertib, aman, dan tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat,” katanya.
Keberhasilan Proyek VDRRSL tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga sejauh mana proyek mampu menurunkan risiko bencana. "Proek ini juga untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya mitigasi bencana yang terencana dan berkelanjutan,” ujar Agus.(*)


