Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Diajak Kopdar Pria dari Facebook, ABG di Bandung Ditipu Saat Hujan Deras di Meja Raja

BANDUNG - Kasus penipuan dengan modus asmara dunia maya kembali terjadi di Kabupaten Bandung.

Foto ilustrasi

Seorang remaja putri berusia 16 tahun asal Kecamatan Solokanjeruk harus menelan pil pahit setelah menjadi korban penipuan oleh pria yang baru dikenalnya lewat media sosial Facebook.

Peristiwa ini sempat viral dan menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah video amatir yang merekam detik-detik saat korban menangis histeris di pinggir jalan beredar luas di platform Instagram.

Dalam rekaman tersebut, sejumlah warga tampak berkerumun mencoba menenangkan sang remaja yang kebingungan sebelum akhirnya aparat kepolisian turun tangan.

Kapolsek Solokanjeruk, IPTU Fathan Malisi, membenarkan kejadian yang menimpa remaja tanggung tersebut.

Ia mengungkapkan, terbongkarnya aksi kejahatan ini bermula secara tidak sengaja ketika jajaran unit patroli Polsek Solokanjeruk melintas di kawasan rumah makan Meja Raja, Kecamatan Solokanjeruk, pada Minggu (25/10/2026).

Di tengah guyuran hujan deras yang melanda kawasan tersebut, petugas mendapati seorang anak baru gede (ABG) berdiri seorang diri di pinggir jalan dengan gelagat kebingungan.

"Waktu kita sedang patroli, tiba-tiba melihat anak itu. Kondisinya waktu didatangi ya seperti orang bingung, tapi masih bisa diajak komunikasi dan bercerita," ungkap Fathan saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Selasa (27/10/2026).

Berdasarkan hasil pendalaman petugas, petaka ini berawal dari perkenalan virtual di media sosial Facebook. Setelah intens saling berkirim pesan, korban yang terbuai bujuk rayu akhirnya bersedia diajak untuk kopi darat atau jalan-jalan menggunakan sepeda motor oleh pelaku.

Nahas, di tengah perjalanan, cuaca mendadak memburuk dan hujan lebat turun memaksa keduanya menepi di sekitar rumah makan Meja Raja.

Memanfaatkan situasi tersebut, pelaku melancarkan tipu muslihatnya dengan meminta korban menaruh tas serta telepon genggam di atas sepeda motor dengan dalih agar tidak basah terkena hujan.

Tanpa ada rasa curiga, korban menuruti permintaan tersebut. Tak lama berselang, pelaku meminta izin untuk pergi sebentar dengan alasan hendak mengambil jas hujan ke kawasan Sapan.

Korban yang ditinggal seorang diri pun hanya bisa menunggu, hingga akhirnya menyadari dirinya telah menjadi korban tindak pidana penipuan.

"Pelaku bilang, 'Udah Teh, tasnya masukin aja di motor, biar enggak kehujanan.' Terus ceweknya diturunkan dengan alasan sebentar mau mengambil jas hujan dulu ke Sapan," jelas Fathan menirukan modus operandi pelaku.

Akibat kejadian itu, korban harus rela kehilangan seluruh barang berharga miliknya yang ditaruh di dalam tas.

Korban bahkan mengaku tidak mengenali wajah pelaku secara jelas lantaran sejak awal pertemuan hingga insiden penipuan terjadi, pria tersebut konsisten mengenakan helm tertutup dan masker penutup wajah.

"Si ceweknya ini memang enggak kenal persis sama orangnya, soalnya pas ketemu itu cowoknya pakai helm dan masker," imbuhnya.

Beruntung, kesigapan Tim Patroli Polsek Solokanjeruk yang melintas di lokasi berhasil meredam kepanikan korban.

Selepas dimintai keterangan awal, aparat kepolisian langsung memfasilitasi proses pemulangan korban hingga kembali ke pelukan keluarganya di kawasan Desa Loa, Kecamatan Solokanjeruk.

Menyikapi insiden yang meresahkan ini, Fathan melayangkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat, khususnya para orang tua yang memiliki anak remaja.

Ia meminta agar ruang digital dan media sosial disikapi dengan tingkat kewaspadaan yang jauh lebih tinggi.

"Imbauan dari kepolisian sebetulnya jelas, tetaplah bijak menggunakan media sosial. Kemudian juga harus berhati-hati terhadap orang yang baru dikenal," tegas Fathan.

Pihaknya turut mengingatkan agar para remaja tidak serta-merta mudah percaya dengan bujuk rayu orang asing yang baru dikenal lewat internet.

Selain itu, aspek komunikasi dengan orang tua sebelum bepergian dinilai menjadi benteng pertahanan utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali, mengingat korban saat ini masih berusia 16 tahun yang masuk dalam fase pencarian jati diri.

"Sebaiknya apabila pertama kali ketemu, sampaikan atau kenalkan juga kepada orang tua terkait hal tersebut. Karena anak ini waktu berangkat juga tidak bilang ke orang tuanya, bilangnya hanya mau keluar saja, maklum namanya juga remaja tanggung yang merasa sudah dewasa," pungkasnya.(*)