Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Puluhan Ikan Dewa Cigugur Mati di Kuningan

Kuningan : Kematian puluhan Ikan Dewa atau Kancra Bodas di kawasan wisata keramat Balong Girang, Cigugur, Kabupaten Kuningan, bukan sekadar peristiwa ekologis biasa. Di balik bangkai ikan-ikan ikonik yang mengapung, tersimpan rangkaian sebab-akibat kompleks yang melibatkan perubahan cuaca ekstrem, gangguan fisiologis ikan, hingga serangan parasit mematikan.

Cuaca ekstrem puluhan Ikan Dewa mati di Balong Cigugur , Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Fenomena ini terjadi di tengah anomali cuaca yang melanda wilayah Kuningan dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan tinggi disertai minimnya paparan panas matahari membuat suhu air kolam turun drastis. Dampaknya langsung terasa pada ekosistem perairan yang selama ini relatif stabil.

Padahal, Ikan Dewa di Kabupaten Kuningan bukanlah ikan biasa. Secara ilmiah dikenal sebagai Tor douronensis, spesies ikan air tawar purba yang telah ada sejak ribuan tahun lalu dan termasuk kelompok ikan mahseer Asia. Keberadaannya di Balong Girang Cigugur menjadi unik karena hingga kini mampu bertahan di habitat alami yang relatif tertutup dan minim intervensi manusia.

Selain bernilai ekologis tinggi, Ikan Dewa juga memiliki nilai historis dan kultural yang kuat. Masyarakat setempat meyakini ikan ini sebagai penjaga balong keramat, sehingga keberadaannya dilindungi secara turun-temurun dan tidak boleh ditangkap ataupun dikonsumsi.

Petugas pengelola Kolam Cigugur, Dwiki mengungkapkan bahwa kematian ikan mulai terdeteksi sejak Rabu dan terus bertambah hingga Jumat 30 Januari 2026. Dari pendataan sementara, jumlah ikan yang mati berkisar antara 20 hingga 22 ekor.

“Sekitar segitu. Terakhir belum kami pastikan nambah atau tidak, tapi sejak kemarin jumlahnya kurang lebih itu,” ujar Dwiki saat dikonfirmasi.

Pada awalnya, pengelola memastikan tidak ada indikasi pencemaran atau penyakit yang bersumber dari aktivitas manusia. Pemeriksaan awal bersama Dinas Perikanan Kabupaten Kuningan menunjukkan kualitas air masih dalam batas aman.

“Air aman, tidak tercemar. Ini lebih karena faktor cuaca. Beberapa hari ini suhu air turun sekali, ikan jadi stres,” jelas Dwiki.

Ia juga menegaskan bahwa ikan yang mati bukan kategori indukan berukuran besar yang selama ini menjadi simbol sakral Balong Girang. “Yang besar alhamdulillah aman. Yang mati ukuran sedang,” tambahnya.

Namun, penyelidikan lebih mendalam justru mengungkap fakta lain yang lebih kompleks.

Saat dihubungi melalui sambungan seluler, Sabtu 31 Januari 2026, Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Denny Rianto, membeberkan hasil investigasi tim teknis yang menemukan adanya indikasi kuat serangan parasit sebagai penyebab langsung kematian ikan.

Dari pemeriksaan visual terhadap bangkai ikan, tim menemukan sejumlah gejala klinis serius. “Kami melihat luka-luka berwarna merah atau hemoragi di tubuh ikan. Insangnya pucat hingga memutih, dan sisiknya sangat mudah terlepas. Ini tanda infeksi berat,” ungkapnya.

Hasil identifikasi menunjukkan parasit Cacing Jangkar (Lernaea sp.) sebagai biang kerok. Parasit ini menempel pada kulit, insang, hingga rongga mulut ikan, menciptakan luka terbuka yang memicu infeksi lanjutan dan berujung kematian.

Meski demikian, Denny menegaskan bahwa parasit tersebut bukan penyebab tunggal, melainkan penyerang oportunis yang memanfaatkan kondisi ikan yang telah melemah.

“Cuaca ekstrem membuat suhu air kolam turun sampai 24 derajat Celcius, itu batas bawah toleransi Ikan Dewa. pH air juga cenderung asam di angka 6. Kombinasi ini menyebabkan stres berat, imunitas ikan drop, dan parasit dengan mudah menyerang,” jelasnya.

Untuk mencegah kematian meluas dan menjaga keseimbangan ekosistem kolam yang memiliki nilai ekologis, historis, dan spiritual tinggi, Diskanak mengambil langkah penanganan darurat berbasis ramah lingkungan. Alih-alih menggunakan bahan kimia, tim memilih pendekatan herbal.

“Kami menebar tumbukan daun kipait (Tithonia diversifolia). Herbal ini efektif mengurangi iritasi luka pada ikan sekaligus menekan populasi parasit tanpa merusak ekosistem kolam,” terang Denny.

Sementara itu, bangkai ikan yang ditemukan langsung dievakuasi dan dikuburkan di sekitar area kolam guna menjaga kebersihan dan mencegah potensi penularan lanjutan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa spesies ikan purba sekalipun tetap rentan terhadap perubahan lingkungan yang ekstrem. Kematian Ikan Dewa di Balong Cigugur bukan hanya kehilangan biologis, tetapi juga alarm dini bagi upaya konservasi kekayaan hayati dan warisan alam Kabupaten Kuningan di tengah perubahan iklim yang kian tidak menentu.(*)